a cup of story

a cup of story

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 3, 2015
Pernahkah kau melihat pelangi? Maksudnya saat kau berada di kota yang penuh dengan kekacauan udara di mana-mana. Atau pernahkah kau melihat bintang? Tentu saja yang kumaksud bintang yang ada di atas kota dengan cahaya lampu menyorot di mana-mana. Pasti susah. Aku berani bertaruh untuk itu. Tapi apakah kau tahu bahwa ada yang dapat menyimpan keindahan abadi mereka? Baiklah, aku bercerita tentang seorang gadis yang kutemui di halte. Dia memberiku pertanyaan bertubi-tubi tanpa tahu bahwa pertanyaan itu akan mendapatkan jawaban yang tepat di masa depan. Aku berpikir ulang untuk meneruskan sekolah ke universitas di kota tempat lahirku. Bukannya apa-apa, cuma di sana aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kenangan yang samar-samar. Berpindah-pindah tempat tinggal tentulah sulit bagiku untuk bisa dengan cepat mengingat segalanya. Sulit. Kecuali satu kota di mana aku tinggal agak lama di sana. Berteman dengan seseorang yang entah sekarang masih mengingatku atau tidak. Tapi yang jelas, satu kata kuberikan padanya. “Maukah kau…”
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • PELANGI
  • She Is Mine ! (EXO Oh Sehun)
  • GRIZLEN {On Going}
  • Pelangi sehabis hujan
  • The Golden Age
  • flashback~
  • Aku Kamu Dan Dia
  • DEARWA [END]

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines