Mati Rasa
"Gue ini cowok yang paling anti urusan sama cewek. Tapi sejak lo ngetok kaca mobil gue di parkiran... tembok yang gue bangun bertahun-tahun itu rubuh gitu aja, Jem." - Jack Immanuel
Bagi Jack, si cowok paling dingin dan tak tersentuh di SMA Pelita Harapan, berurusan dengan perempuan adalah definisi dari keributan yang tidak perlu. Hidupnya sudah cukup nyaman dengan gelar 'Pangeran Kulkas' dan dinding keangkuhan yang ia bangun tinggi-tinggi untuk melindungi dirinya dari orang-orang palsu.
Namun, prinsip itu hancur berantakan di suatu Senin pagi yang sial.
Sebuah insiden tabrakan konyol di gerbang sekolah mempertemukan Jack dengan Jemima Putri Wijaya-siswi baru yang cantik, bar-bar, nekat, dan tidak takut meneriakinya di depan umum. Sialnya lagi, semesta seolah sedang melawak dengan menjadikan mereka teman sebangku.
Berawal dari "Tembok Berlin" dari tumpukan buku paket, adu mulut yang tak pernah usai, hingga insiden-insiden kecil yang tak terduga, dinding es di hati Jack perlahan mulai mencair. Cowok yang selama ini terkenal mati rasa terhadap cinta itu, tiba-tiba saja rela membuang egonya, menjadi tameng pelindung, bahkan menelanjangi kelemahannya sendiri hanya demi seorang Jemima.
Jemima yang awalnya mengira Jack hanyalah anak sultan arogan, perlahan menemukan sisi soft, hangat, dan luar biasa rapuh yang tak pernah ditunjukkan cowok itu pada siapa pun.
Saat gengsi meronta, masa lalu menghantui, dan sebuah tragedi keluarga datang menguji, mampukah dua remaja yang awalnya saling benci ini bertahan? Ataukah Jack akan kembali menutup hatinya dan kembali mati rasa?