Kedai Teh Dalu

Kedai Teh Dalu

  • WpView
    Reads 22
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Aug 8, 2026
WpInfo
Fiction
Fantasy
Dark Fantasy
Social Themes
Abuse and Trauma
Loka Pradeepa berdiri di bawah bayang-bayang miliknya yang terpantul dari cahaya kuning lampu jalan. Hujan turun begitu deras. Guntur saling bersautan. Langit hitam bergumul dengan awan petang yang berselimut kemarahan. Pundak Loka terasa berat dan ia begitu lelah. Huh, dengusnya dengan senyum lelah. "Semua orang emang capek. Semua orang hidup, bekerja, pulang kerumah, bertemu orang menyebalkan, kena sial di jalan, dan pekerjaan yang ngga ada habisnya. Tapi, boleh ngga sih aku mengeluh saat ini? Capek banget, ngga kuat ...." .. Tidak ada kekurangan yang ada pada dirinya. Tampan, tinggi, badan bagus, tentu saja nilai plus yang sangat menjanjikan. Ditambah dengan kepintarannya yang dituangkan dalam cetak biru gedung mewah, apartemen, dan perumahan mahal. Terlalu handal dan sempurna tanpa celah, tapi bagi Loka Pradeepa semua itu hanya omong kosong. .. Jika terus seperti ini, apa Loka yakin bisa hidup menggantikan kakaknya yang merupakan kebanggaan orang tua? Atau Loka akan mati dalam keterpurukan dan dibuang seperti sampah?
All Rights Reserved
#48
anxiety
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ibu Tiri Menolak Mati di Kehidupan ke-7
  • The Mad Marchioness of Obsidia
  • Sin of The Villainess
  • Rumah Untuk Sang Tiran
  • Transmigrasi: The Villain's Stepmother
  • AS : The Side Character's Rebirth
  • My First Life, Rewritten
  • A Family of Villains
  • "Transmigrasi Menjadi Kasim? Sistem Memaksaku Melahirkan Sepuluh Pangeran!"
  • Aveline Beyond Her Fate

Enam kali mati dibunuh tepat di usia 22 tahun. Di kehidupan ketujuh, Ravenna menolak menjadi mangsa. Sebagai seorang mantan pendidik, Ravenna tahu cara terbaik menghukum orang bodoh bukanlah dengan air mata, melainkan dengan merampas apa yang paling mereka hargai. Maka, ia membatalkan pertunangannya dengan Putra Mahkota secara elegan, mengosongkan brankas ayahnya, dan menyerahkan diri kepada pria paling berbahaya di benua itu-Grand Duke Alaric von Blackwood, sang Monster Utara. Tawarannya sangat sederhana: "Jadikan aku istri kontrak selama lima tahun. Aku akan mendidik dua anakmu dan menjadi perisai politik dari hukum Istana. Setelah anak-anakmu aman, ceraikan aku dengan pesangon emas." Bagi Ravenna, ini hanyalah transaksi bisnis. Ia hanya ingin selamat dari maut dan pensiun dengan tenang. Namun, logika dan rencananya gagal meramalkan satu hal... Dua anak tiri yang konon 'monster' itu kini menangis memeluk kakinya, enggan dilepaskan. Sementara sang Grand Duke yang terkenal berhati beku? Pria itu menatap Ravenna dengan sorot posesif yang menggelapkan akal sehat. "Kau yang memulai permainan ini, Istriku. Jangan harap aku akan melepaskan apa yang sudah menjadi milikku."

More details
WpActionLinkContent Guidelines