PROLOG
"Selamat tinggal, selamanya," batinku saat kutinggalkan donat kesukaanmu dan kado terakhir di hadapanmu, lima tahun lalu. Di hari bahagiamu, aku memilih pergi, bukan karena hilang cinta, melainkan karena untuk sekali dalam hidupku, aku memilih melindungi diri sendiri serta masa depanmu yang tak boleh ikut hancur. Surat perpisahan kuselipkan di balik pita, luka dan keikhlasan terbungkus rapi bersama hadiah yang tak pernah kau minta.
Kini, tahun 2030. Hidup mempermainkan takdir dengan cara yang paling licik. Di sebuah perusahaan yang hampir tenggelam akibat kebocoran pangkalan data, namaku sebagai CFO tercatat sebagai biang tragedi. Orang-orang menunjuk, menuding, dan menuntut penjelasan atas angka tebusan 5 triliun yang terkunci di layar pembukuan. Aku, yang selama ini terlihat kuat di balik meja kepemimpinan, diam-diam hanya mampu bertahan berkat sosok tak dikenal di balik layar chat "AI" seorang pakar cybersecurity yang dengan sabar kusandari, penolongku, bahuku, selama tiga tahun terakhir.
Hari itu, saat kehancuran finansial ada di depan mata, aku tak lagi punya pilihan selain meminta bantuannya secara nyata. Ketika pintu ruang rapat terbuka, aku melihatnya, tatapan tajam yang masih sama, mata yang dulu pernah kutinggalkan di hari ulang tahunnya.
"AI" adalah kamu, Delano. Lelaki yang pernah kucintai, yang tak pernah benar-benar bisa kulupakan. Kau masih mengenal setiap rapuhku, masih mengingat detak gelisahku dari balik barisan kode, dan masih menyimpan janji yang tak pernah kau ucapkan secara langsung.
Ironis, dunia kembali mempertemukan kita untuk membongkar skandal 5 triliun ini, justru saat aku telah terikat pernikahan dingin dengan lelaki lain. Namun aku tahu, di balik setiap langkah berisiko yang kamu ambil, ada satu hal yang tak pernah goyah: sebuah Aeternum Promise yang kau pegang teguh hingga akhir.
All Rights Reserved