Kungkang

Kungkang

  • WpView
    Reads 188
  • WpVote
    Votes 59
  • WpPart
    Parts 24
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 24, 2026
WpInfo
Fiction
Social Themes
Jangan Plagiat!! Dua belas peserta. Lima tiket emas. Sebuah panggung seleksi, di saat kegagalanmu dipertontonkan. Dua belas siswa terbaik Amore High School terjebak dalam permainan ular tangga bernyawa. Nilai membawa mereka memanjat ke puncak, sementara kesalahan melempar mereka ke mulut ular, di bawah tatapan ratusan pasang mata yang menanti kejatuhan. Di panggung yang disiarkan ke seluruh sekolah ini, mereka tidak hanya memperebutkan masa depan, tapi juga mempertaruhkan sisa-sisa kemanusiaan. Ketika dadu mulai bergulir, siapakah yang sebenarnya sedang memegang kendali? Ambisi mereka sendiri, atau rasa takut untuk menyerah? Dua belas bidak. Satu arena. Selamat menyaksikan kejatuhan. Mikesehyuna || 2026
All Rights Reserved
#2
homeschool
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Auto Save! [END]
  • PROYEK SATU TAHUN
  • "Liburan" Bonus Suami
  • ELION (bl)
  • Lysander Lowell De Villiers
  • Trouble Maker[END]
  • Tresna Kang Tinatih Ing Alas Jati
  • Target Si Supir [END]
  • The Pinky Boy
  • After the Fall

​"Bang, sumpah gue capek direvisi terus. Pengen resign terus nikah sama sugar daddy aja rasanya." "Kirimkan syarat pendaftarannya ke saya." "Hah? Pendaftaran apaan? Staf desain baru?" "Pendaftaran untuk menjadi laki-laki yang membiayai seluruh sisa hidup kamu." "Bang, kata anak-anak, Abang baru aja nolak Kak Dita ya? Padahal dia primadona kampus loh." "Itu bukan urusan kamu." "Lagian Abang nyari standar yang kayak gimana sih? Yang modelan bidadari turun dari kahyangan aja ditolak mentah-mentah." "Saya mencari yang berantakan, paling susah diatur, hobi begadang, dan selalu membantah ucapan saya..." "..." "Dan wangi tubuhnya seperti permen stroberi." Javas Mahesa (Jaja) mengira kutukan terburuknya sebagai mahasiswa DKV adalah urban legend hantu gantung diri di kosan lantai empatnya. Ternyata dia salah besar. Bencana aslinya justru berwujud Rendra Aditama, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum sekaligus koordinator divisinya yang kaku, galak, dan punya hobi meneror kanvas Figma milik Jaja dua belas jam sehari. Berawal dari keterpaksaan berburu sertifikat kelulusan, Jaja pikir penderitaannya di bawah kekuasaan kursor biru itu hanya sebatas nasib staf bawahan yang tertindas. Namun, dengan semua rentetan revisi tanpa ampun, kating hukum itu rupanya menyimpan agenda lain. Rendra tidak hanya berniat mendominasi kanvas desain Jaja, tapi juga seluruh perhatian, waktu, dan detak jantung mahasiswa baru yang selalu membuatnya pusing itu. Selamat datang di pusaran Nawasena Project. Tempat di mana revisi desain tidak pernah selesai, dan sikap posesif ugal-ugalan bersemi secara paksa dari sebuah ruang kerja digital. [Rank #1 - di #kampus 03/06/2026] [Rank #4 - di #bllokal 26/05/2026] [Rank #11 - di #boyslove 16/06/2026] Di-publish pertama kali pada Mei 2026.

More details
WpActionLinkContent Guidelines