We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Love beyond the Octagon

Love beyond the Octagon

  • WpView
    Reads 415
  • WpVote
    Votes 51
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 13, 2026
WpInfo
Fiction
Action and Thriller
Sports
Romance
Di dunia yang dipenuhi sorak sorai, darah, dan ambisi, seorang raja di dalam octagon berdiri sebagai simbol kekuatan yang tak tertandingi. Dikenal sebagai sosok yang angkuh, penuh percaya diri, dan selalu menantang batas, ia menguasai arena dengan pukulan yang mampu meruntuhkan lawan sekaligus kata-kata yang mampu mengguncang dunia. Namun di balik kejayaan, kesombongan, dan bayangan seorang juara, tersembunyi hati yang hanya dapat disentuh oleh satu jiwa yang menjadi rumahnya. Di antara pertarungan, luka, dan tekanan untuk tetap berada di puncak, mereka menemukan bahwa cinta bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan terbesar yang membuat seorang petarung terus berdiri ketika seluruh dunia menginginkannya jatuh. . . . . Karakter milik Masashi Kishimoto
All Rights Reserved
#68
naruto
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [TAMAT] Help, I'm a Zombie!
  • Dive Into You
  • Mr. Arrogant & His Pet
  • The Last Antagonis
  • AVISENA
  • Between Duty and Desire
  • Project: Undercover Uchiha (Project: Melting Mr Uchiha Part 2)
  • Stuck Between The Pags
  • Side Character Syndrome
  • Hello, Mr. Mafia!

Pearl POV - Menjadi zombi bukan berarti aku kehilangan standar. Makan manusia sembarangan? Ew, jorok banget. Di tengah kiamat ini, aku tetap hidup dengan aturan, gaya, dan asosiasi zombiku sendiri. Hidupku sudah tenang, sampai pria menyebalkan dari militer itu menghalangi jalanku. Bhagna POV -​ Dia mutan anomali. Terlalu sadar dan kelewat terorganisir. Instingku menyuruhku untuk membunuhnya detik itu juga. Tapi senjataku tak pernah menyentuhnya. Dalihku, lebih aman menjaga musuh tetap berada dalam jangkauan. Padahal... mungkin saja aku hanya tidak ingin melepaskannya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines