Di Kekaisaran Tianzhou, laki-laki yang mampu mengandung dianggap sebagai anugerah para dewa.
Mereka dipuja, dimuliakan, dan diperebutkan oleh para bangsawan.
Namun di balik kemewahan istana...
Mereka hanyalah rahim yang dibungkus sutra.
Shen Yu rela menyerahkan seluruh hidupnya demi cinta.
Ia meninggalkan keluarganya, mengorbankan impiannya, bertahan di tengah intrik berdarah Istana Tianzhou, bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan pewaris bagi Kaisar yang begitu ia cintai.
Sebagai balasannya, ia diberi gelar tertinggi, jubah emas yang melambangkan kehormatan, dan kedudukan yang diidamkan semua orang.
Seluruh kekaisaran percaya...
Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai Kaisar selain Shen Yu.
Tak ada yang tahu bahwa setiap senyum di wajah Shen Yu hanyalah topeng.
Tak ada yang tahu bahwa setiap malam ia menangis sendirian.
Tak ada yang tahu bahwa setiap pengorbanannya selalu dianggap sebagai kewajiban.
"Kau adalah permaisuriku. Sudah seharusnya kau melakukan ini."
Ketika tubuhnya melemah karena kehamilan...
Ia diminta bertahan.
Ketika hatinya hancur karena fitnah dan pengkhianatan...
Ia diminta mengalah.
Bahkan ketika nyawanya berada di ambang kematian saat melahirkan...
Yang pertama ditanyakan Kaisar bukanlah dirinya.
"Bagaimana keadaan putra mahkota?"
Hari itu, Shen Yu akhirnya mengerti.
Yang dicintai Kaisar bukanlah dirinya...
Melainkan semua yang bisa ia berikan.
Cintanya.
Kesetiaannya.
Tubuhnya.
Dan pewaris yang ia lahirkan.
Maka, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Shen Yu berhenti berharap.
Berhenti mengejar.
Berhenti mencintai.
Dan baru ketika hati itu benar-benar pergi...
Sang Kaisar menyadari bahwa kekuasaan mampu membuat seluruh dunia berlutut di hadapannya.
Namun tidak akan pernah cukup untuk mengembalikan satu orang yang telah ia hancurkan dengan tangannya sendiri.
Sebab ada cinta yang mati bukan karena dikhianati... melainkan karena terlalu lama dianggap sebagai kewajiban.
All Rights Reserved