Aku menghabiskan hidupku menjaga ketukan.
Di atas panggung, aku adalah orang yang bisa diandalkan musisi yang membuat ribuan orang percaya bahwa semuanya baik-baik saja, selama birama tetap stabil. Empat per empat. Common time. Ketukan yang begitu familiar sampai orang berhenti mendengarnya.
Naira, istriku, menjaga sesuatu yang lain: perusahaan multinasional yang mempercayakan ratusan keputusan penting di tangannya setiap hari. Presisi, target, tanggung jawab, dunia yang tidak memberi ruang untuk kesalahan, apalagi ketidakteraturan sepertiku.
Dulu aku pikir kami cocok justru karena itu. Dua orang yang sama-sama percaya bahwa menjaga sesuatu tetap dalam ketukan adalah bentuk cinta yang paling bisa dipercaya, hanya saja ketukan yang berbeda dunia.
Aku tidak menyadari, sampai enam tahun berlalu, bahwa aku terlalu sibuk menjaga birama di panggungku sendiri, sementara dia menjaga birama di dunianya dan kami berdua lupa untuk tetap bermain bersama.
Keluarga besarnya membandingkan penghasilanku dengan asetnya. Dia mulai lelah merasa menjadi satu-satunya yang harus terus memaklumi gaya hidupku. Dan aku, aku mulai merasa setiap nada yang kutulis, setiap panggung yang kunaiki, diam-diam ditimbang dengan standar kesuksesan yang bukan milikku.
Luka-luka kecil yang dulu bisa kami maafkan, perlahan berubah menjadi luka yang tak lagi bisa kuucapkan.
Sampai akhirnya, di titik paling rapuh dalam hidupku, kami memilih jalan yang paling rapi untuk mengakhiri kekacauan yang kami ciptakan berdua.
Tapi tidak ada yang pernah mengajariku bahwa berhenti bersama tidak selalu berarti berhenti saling mengenal.
4/4, We're Losing Time adalah cerita tentang seorang musisi yang tahu persis cara menjaga ketukan tetap stabil, namun harus kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mengenalnya, sebelum belajar apa artinya benar-benar mendengarkan.
Tutti i diritti riservati