TIGA BELAS TAHUN PENANTIAN [revisi]
Tiga belas tahun sudah berlalu sejak kepergiannya. Tiga belas tahun Lan Wangji menghabiskan waktu dengan bertanya pada angin, berbicara pada kabut, dan memohon jawaban dari roh-roh yang tak berjawab. Di Luanzanggang, tempat di mana kenangan terakhir tertinggal, ia menunggu seseorang yang seharusnya sudah tiada, seseorang yang tak mungkin kembali lagi ke dunia ini.
Hari demi hari, tahun demi tahun, ia datang membawa payung merah dan lentera yang cahayanya seolah tak pernah padam. Ia memainkan melodi yang hanya mereka berdua yang mengerti, berharap suara itu bisa menembus batas kehidupan dan kematian, sampai ke tempat orang yang dicintainya berada. Namun, yang kembali hanyalah kesunyian dan bayangan masa lalu yang semakin memudar.
Dunia terus berputar, zaman terus berubah. Waktu tidak pernah berhenti hanya karena seseorang sedang berduka.
Namun, siapa sangka bahwa di balik dinding waktu yang terus berjalan, takdir menyimpan sebuah kejutan. Di masa depan yang jauh dari perang dan intrik, di era di mana segalanya telah berbeda, mungkin saja takdir mempertemukan kembali dua jiwa yang saling rindu. Bukan dalam wujud yang sama, bukan dengan nama yang dulu, namun dengan hati yang mengenali getarannya.
Mungkinkah penantian tiga belas tahun itu akhirnya terjawab? Atau sosok yang hadir di masa depan itu hanyalah ilusi belaka?