Di lereng Gunung Semeru, empat penambang pasir-Agung, Akbar, Alif, dan Agus-terbiasa menghabiskan hari-hari mereka di antara suara mesin truk, debu vulkanik, dan derasnya aliran sungai.
Semuanya berubah ketika hujan deras turun selama dua hari tanpa henti. Sungai meluap, akses keluar terputus, dan keempatnya terpaksa bertahan di sebuah tenda sederhana di dekat truk.
Keterbatasan ruang, dinginnya malam, rasa takut terhadap luapan sungai, dan kesunyian yang jauh dari kehidupan mereka sehari-hari perlahan membuka sisi-sisi pribadi yang selama ini mereka sembunyikan.
Di tengah keadaan yang semakin sulit, kedekatan antara mereka mulai berubah. Tatapan menjadi lebih lama, perhatian menjadi lebih personal, dan percakapan yang awalnya sederhana perlahan mengarah pada perasaan yang selama ini tidak pernah berani mereka ungkapkan.
Di bawah suara hujan dan bayang-bayang Gunung Semeru, mereka bukan hanya berusaha bertahan dari alam.
Mereka juga harus menghadapi hati mereka sendiri.
All Rights Reserved