SI BUNGSU ELVANO KELUARGA ARDHANA

SI BUNGSU ELVANO KELUARGA ARDHANA

  • WpView
    Reads 76
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Aug 15, 2026
WpInfo
Fiction
Fantasy
Mystery
Social Themes
Menceritakan tentang sebuah keluarga yang terlihat sederhana, tetapi memiliki ikatan yang sangat kuat.Elvano adalah anak bungsu yang menjadi pusat kasih sayang keluarga Ardhana. Sejak kecil, ia selalu menjadi anak yang paling diperhatikan. ini hanya khayalan author tolong jangan di COPY PASTE jangan lupa vote, follow dan komen orang baik😊
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Saujana Kasih
  • Janji di Kursi Semen [TAMAT]
  • Dikara Yantaka
  • joshua and rival
  • Baby Kean [Hiatus]
  • MY BOSS IS MY BROTHER [ BROTHERSHIP ]
  • PAPA?
  • Gevano and Family
  • baby Jev [Hiatus]
  • Resonance [END]

Senja turun di rumah yang tak pernah benar-benar sunyi. Vano baru menutup laptop ketika aroma jahe dan madu dari dapur mendahului munculnya Alfa. "Udah minum obat, kak?" suara lembut Alfa terdengar. Vano tersenyum tipis. "Belum. Nanti aja, bang " Alfa meletakkan cangkir, uapnya naik tipis. "Jangan telat makan. Kakak sejak tadi pegang laptop terus." Ia berdiri di belakang, memijat bahu Vano perlahan. Dari lorong terdengar suara lain. "Capek, kak?" Gema muncul, menempelkan pipinya ke lengan Vano, tangannya perlahan menyelip ke pinggang kakaknya. Tekanan pertama lembut, selanjutnya lebih dalam. Vano diam tak berkomentar, hanya mengencangkan rahang. Alfa menghentikan pijatan. "Gema, kamu belum makan?" "Sudah," jawab Gema, wajah kosong, tangannya masih di pinggang Vano. Bibirnya mendekat ke telinga kakaknya, lirih, "...jangan terlalu dekat sama Alfa, kak....: ".....nanti aku cemburu." Alfa tak mendengar, tapi melihat garis tipis di alis Vano menegang. Ia pergi ke dapur, dan cengkeraman Gema berubah, menarik Vano sedikit. "Kakak ngerti kan?" Vano menatap hangat. "Iya." Gema tersenyum miring, tangannya naik ke pipi Vano, lalu mengecup pipi Vano lembut tapi terasa seperti menandai kepemilikan. " Kalau ngerti, jangan buat aku cemburu," bisiknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines