Angin Sore di Batas Desa
Di sebuah desa yang dikelilingi perbukitan hijau dan hamparan sawah, empat remaja perempuan tumbuh bersama angin sore yang selalu membawa cerita. Meski jarak memisahkan rumah mereka-dari ujung selatan yang bising hingga ujung barat yang sepi-persahabatan mereka adalah tempat pulang paling aman.
Valeska Anindya Kirana, si sulung di pertemanan yang tinggal di tengah desa. Di balik senyum lembut dan sifatnya yang mudah tertawa, ia adalah anak bungsu yang dipaksa dewasa oleh runtuhnya ekonomi dan perceraian orang tua. Di tempat yang sama, ada Calya Charvi Mahendra, si bungsu yang tenang dan dewasa karena tuntutan sebagai anak pertama di keluarganya. Di ujung selatan yang bising dekat pasar dan jalan utama, hidup Rania Radhika Candini, anak tunggal yang bijak namun keras kepala, dibesarkan oleh ketangguhan seorang ibu tunggal. Sementara di ujung barat yang sepi dan tenang, ada Theresia Niscala Pramesti, anak kedua dari empat bersaudara yang justru memiliki sifat ekstrovert, ceria, dan tidak bisa diam.
Tahun terakhir di SMA kelas 12 membawa mereka pada pusaran emosi yang baru. Bukan hanya tentang ujian sekolah atau masa depan, tetapi tentang hati yang mulai mengeja rasa. Anin yang tidak sengaja terjebak dalam dunia Austin, cowok kota yang menyimpan luka setelah kehilangan orang tuanya dan memilih merawat neneknya di desa. Rain yang akhirnya mendapati cintanya pada Ray, sang kakak kelas sejak kelas 7 SMP yang mulai berbalas di detik-detik menjelang kelulusan. Tessa yang harus menghadapi takdir menggelikan bernama "benci jadi cinta" dengan teman sekelasnya, Glen. Serta Charvi, yang ketulusannya sejak masa MPLS akhirnya mampu meruntuhkan gunung es di hati cowok pujaan hatinya, Sean.
Ini bukan sekadar cerita cinta remaja. Ini adalah kisah tentang pelukan hangat keluarga, riuh rendah persahabatan, dan bagaimana cinta yang murni selalu tahu jalan untuk pulang ke hati yang tepat.