Sania Ardani Yusefa selalu tahu batas antara cinta monyet dan sahabat laki-laki. Terutama jika menyangkut Rigan Argaputra Hutomo. Seisi SMA hingga satu kompleks perumahan sudah terbiasa melihat mereka bersama. Berangkat, pulang, jajan cilok di gerbang sekolah, semuanya selalu berdua sampai satpam pun hafal motor Igan dan lambaian tangan Sania dari boncengan.
"Aduh, Nia, ngaku aja pacaran sama si Rigan. Kalian kayak perangko sama amplop," goda Dinda. Sania langsung memasang wajah jijik.
"Hiiih, amit-amit! Igan itu udah kayak saudaraan sama gue. Dia terlalu alim. Hidupnya cuma bola, basket, sama bengong. Buat apa pacaran sama dia?" Memang begitu gambaran Igan di mata Sania. Cowok dengan rambut terlampau rapi, sepatu converse bersih, tanpa gosip, tanpa drama. Ia hanya sosok "abang alim" yang aman dan membosankan. Karena itu, kabar Igan kuliah di Engineering dan akan ngekost justru membuat Sania bersemangat. Kebebasan, dunia baru, dan kesempatan mengejar Desain Komunikasi Visual. Namun ternyata restu orang tua menjadi penghalang.
"Anak perempuan Papi tinggal sendiri? Nggak -" tegas Pak Yusefa. Sania segeramencari celah.
"Tapi Pi, DKV Universitas Guna Persada bagus loh . Lagipula ada Igan di sana. Kita bisa sekost. Dia bisa jagain aku." Padahal Igan tidak pernah mengatakan hal itu. Pemuda tampan dengan wajah datarnya hanya menoleh saat namanya tiba-tiba dijadikan jaminan. Ia tidak sadar baru saja menjadi alasan utama Sania meraih kebebasan.
Akhirnya, Pak Yusefa luluh dengan satu syarat. Sania harus tinggal bersama Igan dan rutin memberi kabar.
***
Hari baru mereka telah tiba. Sania melangkah menuju kehidupan barunya dengan senyum penuh harapan, sementara Rigan berjalan di sampingnya membawa koper tanpa banyak suara. Sania mengira ia pergi bersama sahabat yang sama seperti dulu. Ia belum tahu, tempat itu tidak hanya membawa pengalaman baru, tetapi juga membuka sisi lain dari Rigan yang selama ini justru menyimpan sisi yang belum pernah ia kenal.
All Rights Reserved