We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Tidak Membenci Sebuah Harapan

Tidak Membenci Sebuah Harapan

  • WpView
    Reads 80
  • WpVote
    Votes 26
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 17, 2026
WpInfo
Fiction
Social Themes
Family Life
Coming of Age
Disability
Hawa dingin sedikit menusuk tulang sore ini. Sang hujan tengah menunaikan tugasnya untuk membasahi bumi. Saat itu, Yoga sedang menatap banyaknya pohon rindang di balik kaca besar dengan berdiri di sebuah ruangan bersama Alifah, sang adik. Dia tepat di belakangnya duduk di sofa seraya memutar-mutarkan setangkai bunga matahari menggunakan tangan kanannya. Bunga tersebut, pemberian dari Yoga. "Tepat tahun 2018 yang lalu kita lulus dari SMA Ganesha Abadi. Lantas, kita kembali ke sekolah itu dengan mengemban sebuah misi setelah kamu mengobrak-abrik sistem digital negara ini, Alifah. Misi ini adalah sebuah kasus. Apakah kamu sudah sanggup lagi, meskipun Afandi ada di dalamnya? Gangguan mental PTSD-mu yang pemicu utamanya adalah dia belum benar-benar pulih, Alifah." ucap Yoga. Nggak nyangka, ya? Usia kita 27 tahun, tahun 2026 ini," kata Alifah lalu menghela napas. "Aku memang salah waktu itu, Mas. Mengobrak-abrik sistem digital negara adalah tindakan kriminal yang sangat fatal. Ya ... walau begitu, aku sudah menerima dan menjalani konsekuensinya 'kan? Karena adik kamu, nggak pernah kamu ajari sebagai seorang pengecut. Mas Yoga tahu 'kan, Afandi bagian dari hidup aku? Dan ... yang membuat aku ngerasa hidup lagi kala itu? Dalam kasus ini, sanggup nggak sanggup, aku harus sanggup 'kan, Mas? 'Kan aku dan kamu, Kriska. Ditambah Helmi juga, diminta ke sekolah ini lagi, hanya untuk kasus ini. Aku akan profesional, Mas. Anandita harus mendapat keadilan dan cara Pak Gani, tidak dapat dibenarkan." Yoga hanya mengangguk tanpa berniat berbalik badan menghadap Alifah. Dia menghela napas. Semoga kali ini, harapan itu tidak dibenci Alifah kembali. Karena pada dasarnya, kasus ini adalah lautan. Yang mau, tidak mau, Alifah harus menyelaminya agar dia tahu sedalam apa dirinya tenggelam dulu. Mampu, kah, Alifah tidak membenci sebuah harapan itu lagi?
All Rights Reserved
#9
pendidikan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Auto Save!
  • Lysander Lowell De Villiers
  • "Liburan" Bonus Suami
  • The Pinky Boy
  • Trouble Maker[END]
  • PROYEK SATU TAHUN
  • Target Si Supir [END]
  • ELION (bl)
  • Tresna Kang Tinatih Ing Alas Jati
  • After the Fall

​"Bang, sumpah gue capek direvisi terus. Pengen resign terus nikah sama sugar daddy aja rasanya." "Kirimkan syarat pendaftarannya ke saya." "Hah? Pendaftaran apaan? Staf desain baru?" "Pendaftaran untuk menjadi laki-laki yang membiayai seluruh sisa hidup kamu." "Bang, kata anak-anak, Abang baru aja nolak Kak Dita ya? Padahal dia primadona kampus loh." "Itu bukan urusan kamu." "Lagian Abang nyari standar yang kayak gimana sih? Yang modelan bidadari turun dari kahyangan aja ditolak mentah-mentah." "Saya mencari yang berantakan, paling susah diatur, hobi begadang, dan selalu membantah ucapan saya..." "..." "Dan wangi tubuhnya seperti permen stroberi." Javas Mahesa (Jaja) mengira kutukan terburuknya sebagai mahasiswa DKV adalah urban legend hantu gantung diri di kosan lantai empatnya. Ternyata dia salah besar. Bencana aslinya justru berwujud Rendra Aditama, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum sekaligus koordinator divisinya yang kaku, galak, dan punya hobi meneror kanvas Figma milik Jaja dua belas jam sehari. Berawal dari keterpaksaan berburu sertifikat kelulusan, Jaja pikir penderitaannya di bawah kekuasaan kursor biru itu hanya sebatas nasib staf bawahan yang tertindas. Namun, dengan semua rentetan revisi tanpa ampun, kating hukum itu rupanya menyimpan agenda lain. Rendra tidak hanya berniat mendominasi kanvas desain Jaja, tapi juga seluruh perhatian, waktu, dan detak jantung mahasiswa baru yang selalu membuatnya pusing itu. Selamat datang di pusaran Nawasena Project. Tempat di mana revisi desain tidak pernah selesai, dan sikap posesif ugal-ugalan bersemi secara paksa dari sebuah ruang kerja digital. [Rank #1 - di #kampus 03/06/2026] [Rank #4 - di #bllokal 26/05/2026] [Rank #11 - di #boyslove 16/06/2026] Di-publish pertama kali pada Mei 2026.

More details
WpActionLinkContent Guidelines