"Kematian ternyata bukanlah akhir dari kutukan, melainkan awal dari pembalasan."
Gemilang Pra Seda memuntahkan darah yang bercampur dengan paku dan rambut. Tubuhnya hancur digerogoti santet mematikan kiriman putri Trah Mongso yang ternyata diam-diam mendamba suaminya.
Namun, rasa sakit dari ilmu hitam itu tak sebanding dengan apa yang Gemilang lihat di detik-detik terakhirnya.
Raden Jaya Wijaya, suaminya, hanya berdiri mematung. Pria itu menatap tubuh Gemilang yang sekarat dengan sorot mata dingin, tanpa setitik pun niat untuk menolong.
Hingga akhirnya, Gemilang mati membawa dendam dan penyesalan.
Namun, ketika ia kembali membuka mata, alih-alih berada di alam baka, hidungnya justru disambut oleh pekatnya aroma kemenyan dan kembang setaman.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin rias didepannya. Ia kembali ke masa lalu, tepat pagi hari saat ritual Nali Jodoh itu dilaksanakan.
"Aku bali, gawa rasa lara seng bakal tak balesno. Ojo nyeluk aku Sedo lek aku raiso mbales trah Mongso lan Wijaya."
All Rights Reserved