Promises We Left Behind || Cerpen

Promises We Left Behind || Cerpen

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sun, Aug 9, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
First Love
Highschool
Friends to Lovers
Bagaimana jika orang yang paling lama berada di sisimu ternyata bukanlah orang yang ditakdirkan untuk tinggal? Athanasia Genevieve Claire-atau Nasia-hanyalah seorang gadis yang menemukan kebahagiaan melalui kata-kata. Di tengah perjalanan mengejar mimpinya sebagai novelis, ia selalu memiliki satu orang yang tak pernah absen dari hidupnya: Zaydan Alfarezel Adnan, sahabat masa kecil yang perlahan membuatnya jatuh cinta. Namun, ketika Nasia membantu Zaydan meraih posisi sebagai ketua OSIS, ia justru harus menyaksikan orang yang dicintainya memilih gadis lain. Saat jarak mulai tercipta, hadir Altair Rafandra Malik-seseorang yang datang bukan untuk menggantikan siapa pun, melainkan untuk mengajarkan Nasia bahwa kasih sayang tidak selalu datang dari orang yang kita harapkan. Di tengah hati yang patah, sebuah kabar tentang ayah yang telah lama menghilang kembali membuka luka sekaligus menawarkan awal yang baru. Pada akhirnya, Nasia harus memilih: tetap menggenggam masa lalu, atau berani meninggalkan segala sesuatu yang pernah ia cintai demi masa depan. Karena terkadang, cinta tidak berakhir dengan memiliki. Dan terkadang, janji yang pernah diucapkan dengan tulus justru menjadi sesuatu yang harus kita tinggalkan di belakang.
All Rights Reserved
#86
childhoodfriends
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sisa Rasa di Ujung Luka.
  • DEGRADASI [SELESAI]
  • DARKLANE RIDERS
  • DERVANUS - WHEN THE SKY TURNED GRAY
  • Fared With BADevil '2 || JJK Bts [ TAMAT ]
  • THE RED STRING OF SOULMATE
  • DEVIL'S REIGN
  • Resensi buku What's so wrong about your self healing by Ardhi Mohamad
  • SEPERTI PLANKTON
  • CINTA YANG SALAH [ Tahap Revisi ]

Katanya, rumah adalah tempat pulang paling nyaman. Tapi bagaimana jika rumah itu sendiri yang memberikan luka paling dalam?" ​Bagi Isya Kirana. dunia tidak lagi memiliki warna sejak kebahagiaannya dirampas oleh keadaan. Ia terbiasa berjalan sendirian, memeluk lukanya erat-erat agar tidak ada yang tahu betapa hancur hatinya. Sampai akhirnya, ia bertemu dengan seseorang yang tidak menjanjikan kesembuhan, namun menawarkan pundak untuk bersandar. ​Ini bukan sekadar cerita tentang jatuh cinta, tapi tentang bagaimana menemukan kembali arti 'pulang' di tengah puing-puing masa lalu yang belum usai. Karena terkadang, rumah bukan lagi berupa bangunan, melainkan seseorang yang bersedia menetap meski tahu kita sedang tidak baik-baik saja.

More details
WpActionLinkContent Guidelines