Di banyak keluarga, salah memanggil nama anak atau mengabsen seluruh nama saudara secara berurutan di meja makan adalah hal yang lumrah. Bagi orang lain, itu cuma kebiasaan canggung orang tua. Bagi seorang pria biasa yang bekerja sebagai juru ketik toko cetak murah di ujung gang, kebiasaan sepele itu adalah penolakan eksistensi secara mutlak. Dia tidak pernah memiliki nama tunggal di mata ibunya. Dia hanya salah satu nama acak di dalam daftar yang bisa ditukar kapan saja.
Pria itu tidak pernah berteriak atau memukul. Dia adalah anak yang sangat sopan dan tenang. Namun, di balik senyum tipisnya, sebuah pembalasan dingin berjalan secara sistematis di dalam rumah. Setiap kali Ibu salah menyebut namanya saat menyajikan sup dingin, pria itu masuk ke kamar saat ibunya tidur. Menggunakan bahan kimia rumah tangga biasa-pemutih baju, pisau dapur, dan kertas ampelas kasar-dia mengerik nama ibunya dari balik foto tua, merendam surat-surat keluarga hingga tintanya luntur, dan menyebarkan kebohongan ke tetangga bahwa ibunya mengidap gangguan jiwa yang hanya mau dipanggil dengan nama baru. Dalam beberapa minggu, Ibu mendapati seluruh foto, dokumen, dan tetangganya menolak keberadaan nama aslinya.
Tindakan kedua mengikuti secara refleks. Setiap kali Ibu bergeser duduk lima sentimeter menjauh di atas bangku kayu karena canggung setelah salah sebut nama, pria itu meresponsnya secara fisik: menggeser lemari, menumpuk barang bekas, dan memindahkan perabotan untuk mempersempit ruang gerak Ibunya hingga tersisa satu sudut sempit. Pola ini kemudian dia bawa ke jalanan kota. Siapa pun di luar sana yang salah menyebut namanya karena terburu-buru atau menganggapnya tidak penting akan mendapati dokumen fisik, nametag, dan barang pribadi mereka dirusak di tempat umum, memaksa mereka mengalami penolakan identitas yang sama di depan banyak orang.
All Rights Reserved