Di sebuah kota kecil di Jawa Barat pada penghujung dekade 1960-an, sebuah perpustakaan tua berdiri sunyi di ujung jalan yang mulai dilupakan orang. Rak-raknya dipenuhi buku-buku usang, manuskrip yang menguning, surat-surat tanpa alamat, dan catatan-catatan yang tak lagi tercantum dalam sejarah resmi.
Di tempat itulah Raka, seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun, tumbuh setelah kehilangan ayahnya secara misterius. Suatu malam, ayahnya dibawa pergi oleh sekelompok orang tak dikenal dan tidak pernah kembali. Tidak ada makam, tidak ada surat terakhir, bahkan tidak ada penjelasan. Yang tersisa hanyalah kesunyian.
Suatu hari, Raka bertemu dengan Abimanyu, seorang lelaki tua yang hampir setiap sore datang ke perpustakaan. Ia tidak pernah meminjam buku. Ia hanya duduk membaca, menutup halaman demi halaman dengan penuh kehati-hatian, seolah setiap kata yang disentuhnya adalah kenangan yang masih hidup. Kepada Raka, ia pernah berkata, "Yang paling mudah dibakar bukanlah buku, melainkan ingatan manusia." Kalimat itu terus menghantui pikiran Raka dan menjadi awal dari perjalanan yang akan mengubah hidupnya.
Didorong rasa ingin tahu, Raka mulai menyelidiki bersama Sari, putri seorang penjual buku bekas yang cerdas, pemberani, dan mencintai cerita sama besarnya dengan Raka. Dari ruang arsip yang terkunci, loteng berdebu, hingga rak-rak tersembunyi di balik dinding perpustakaan, mereka menemukan bahwa setiap buku yang hilang saling terhubung oleh satu benang merah: semua pemiliknya pernah menghilang tanpa penjelasan.
Di tengah pencarian itu, Raka menemukan sebuah buku harian tanpa nama. Saat membuka halaman-halamannya, ia membeku. Tulisan tangan di dalamnya sangat dikenalnya. Itu adalah tulisan ayahnya. Namun ada sesuatu yang mustahil: beberapa catatan ditulis bertahun-tahun setelah malam ketika ayahnya dinyatakan hilang. Penemuan itu mengguncang seluruh keyakinannya. Apakah ayahnya masih hidup? Ataukah seseorang sedang melanjutkan kisah yang belum selesai?
All Rights Reserved