"Kamu mengikutiku dari halaman demi halaman, kata demi kata, bait demi bait, sajak demi sajak. Darahnya ada pada tanganmu juga."
: Arvin-Jakarta, 1998.
Aku pernah berpikir bahwa suara ribuan orang tidak mungkin dibungkam.
Ternyata aku salah.
Sebab ketika kami berdiri di jalanan, meneriakkan apa yang selama ini dipendam, mereka tidak datang membawa jawaban.
Mereka datang membawa senjata.
Satu tembakan, tubuhku terhempas dalam kegelapan.
Dan ketika hidup perlahan meninggalkan tubuhku, ingatanku justru membawa kembali semuanya ke awal.
Pada hari ketika aku pertama kali memutuskan untuk ikut turun ke jalan. Kepada teman-teman yang berdiri di sisiku. Kepada orang-orang yang membuatku percaya bahwa perubahan mungkin terjadi.
Dan kepada sebuah pilihan yang akhirnya membawa kami semua menuju hari itu-Hari ketika suara kami berhadapan dengan peluru.
Ini adalah kisah yang dimulai dari sebuah tembakan, lalu kembali ke awal untuk mencari tahu mengapa pelatuk itu ditarik.
All Rights Reserved