BOM WAKTU

BOM WAKTU

  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 18
WpMetadataReadMatureComplete Wed, Aug 12, 2026
WpInfo
Fiction
Action and Thriller
Survival
War and Military
Crime
​"Dulu, aku memilih mengalah agar ibuku tidak menangis. Tapi aku belajar satu hal: kebaikan yang lemah hanya mengundang penderitaan." ​Sejatining Jagat (Jati) tampak seperti mahasiswa rantau biasa di Yogyakarta. Ia pendiam, tidak mencolok, dan bertahun-tahun terbiasa menelan mentah-mentah siksaan bullying tanpa pernah melawan. Bukan karena takut, melainkan karena ia tidak ingin membuat ibunya bersedih. Di balik matanya yang datar, Jati hanya memegang satu prinsip: selesaikan masalah secepat mungkin, dan hindari konflik yang berlarut-larut. ​Namun, segalanya berubah hancur ketika sang ibu tiada. ​Ketika satu-satunya sosok pengganti ibunya-sang ibu kos-dianiaya oleh preman jalanan dan disuruh "mengalah saja", kunci pengaman di dalam diri Jati jebol. Sisi kalkulatif dan dinginnya bangkit. Jati bukan lagi korban; ia bertransformasi menjadi psikopat pragmatis yang mengeksekusi ancaman dengan efisiensi absolut tanpa setetes pun rasa takut. ​Ketika kelompok preman penguasa jalanan Jogja itu membalas dengan membakar tempat tinggalnya, Jati tidak lari. Ia justru membalikkan keadaan, membawa para pemburu itu masuk ke tanah kelahirannya di Purbalingga, dan mengubah ladang persawahan menjadi rumah jagal melalui perang gerilya yang mematikan. ​Namun, pembantaian di desa itu hanyalah permulaan. Didorong oleh logika ekstrem untuk memutus rantai ancaman sampai ke akar-akarnya, Jati melangkah melewati batas moralitas manusia, menyalakan api penyucian yang menyeretnya langsung ke hadapan regu tembak Nusakambangan. ​Ini bukan kisah tentang pahlawan penyelamat dunia. Ini adalah memoar gelap tentang bagaimana perundungan kecil di sekolah mampu merakit sebuah bom waktu yang siap meratakan segalanya. ​Seberapa jauh seseorang bisa didorong ke dalam kegelapan sebelum ia memutuskan untuk menghabisi dunianya sendiri?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bukan Babysitter, Bung
  • GAIRAH MENANTU BERSERAGAM
  • Jangan Halangi Pensiun Diniku, Mas Aktor! (Hiatus)
  • Stuck Between The Pags
  • NEALINE : Blood and Ice Cream
  • Bukan Sembarang Figuran
  • AVISENA
  • THE DUCHESS OF LANCASTER : A Tale of Two Lives (END/COMPLETED)
  • XAVIER : The Silent Guardian

"Aku ingin kau menjaga putraku... dan teman-temannya." Naraska mengernyit. Kata-kata itu terasa janggal di telinganya. Di seberang meja kerja, Rajendra C. Lysander duduk tegak, menatapnya lurus sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di permukaan kayu. "Aku tahu ini terdengar aneh," suara Rajendra berat, sarat kelelahan. Di tangannya, selembar kertas bisnis terjepit tanpa benar-benar ia baca. "Tapi aku akan pergi selama tiga bulan untuk perjalanan bisnis. Jadi aku membutuhkan bantuanmu." Naraska menarik napas. "Aku tidak keberatan, Paman. Tapi... mengapa harus aku? Mereka sudah mahasiswa. Bukankah mereka bisa menjaga diri mereka sendiri?" Rajendra terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Tatapannya beralih ke luar jendela, seolah mencari jawaban pada langit senja di balik kaca. "Putraku dan teman-temannya telah tinggal di rumahku selama 5 bulan," ucapnya pelan. "Mereka tengah bersiap untuk mengikuti pertandingan Battle of the Bosses. Karena mereka meminta cuti, jadwal belajar mereka bersama pengajarnya semakin padat." Naraska menautkan alis. "Kalau begitu, mengapa aku perlu mengawasi mereka? Bukankah guru itu cukup?" Mata Rajendra kembali beralih padanya, kali ini tajam dan penuh arti. "Itulah," katanya singkat. "Yang ku ingin kau awasi"

More details
WpActionLinkContent Guidelines