Nirswara Langit Senandika?
"Di dalam dunianya yang "Nirswara", Bumi adalah satu-satunya melodi yang berhasil Langit dengar."
Bagi seisi SMA Pancasila Jakarta, "Nirswara Langit Senandika" adalah sebuah kesalahan sosial. Dilahirkan tanpa kemampuan untuk mendengar dan bersuara membuat Langit terbiasa dikucilkan, dihina, dan menjadi sasaran empuk perundungan bagi beberapa siswa-siswi sekolah. Mereka menganggap keterbatasannya sebagai noda yang merepotkan.
Namun di balik benteng kesunyiannya yang rapat, Langit menyimpan sebuah rahasia besar. Tangannya tidak hanya lihai melahirkan goresan sketsa yang hidup di atas kertas, tetapi juga sangat ajaib saat memetik senar gitar, memukul drum, hingga menari diatas tuts piano. Lewat alat bantu dengar yang tersembunyi di balik rambutnya, musik menjadi cara Langit bernapas di dunia yang menolaknya.
Hingga suatu hari, sebuah lensa kamera menangkap bayangannya dari balik jendela.
"Bumi Danendra Cakrawala" adalah definisi kesempurnaan. Cantik, bersinar, dan populer. Bumi adalah primadona sekolah yang diperebutkan oleh banyak orang. Hidup bumi selalu dipenuhi sorak-sorai dan kepalsuan, sampai matanya tertuju pada pojok kelas yang paling sunyi.
Pertemuan mereka berujung salah paham ketika sapaan lantang Bumi diabaikan begitu saja oleh Langit yang saat itu sedang melepas alat bantunya. Rasa kesal bumi berubah menjadi rasa bersalah yang mendalam setelah Naladhipta dan kalla mengungkapkan fakta sebenarnya.
Alih-alih menyerah, sang primadona sekolah memilih jalah tak terduga. Bumi melacak nomor ponsel Langit, mencari cara halus untuk mengetuk pintu dunianya, hingga nekat mempelajari bahasa isyarat diam-diam. Demi Langit, Bumi rela melangkah turun dari tahta popularitasnya dan menjadi tameng pelindung bagi gadis sunyi itu.