The Song He Was Never Meant to Hear
Forks selalu basah.
Bukan hanya tanahnya, tapi juga kenangannya. Hujan di kota kecil itu tidak pernah datang dengan tergesa ia turun perlahan, menetap, dan menolak pergi. Seperti duka yang tidak tahu cara berpamitan.
Lottie Howard tiba di Forks membawa koper, surat kematian, dan keheningan.
Ia berusia tujuh belas tahun, terlalu muda untuk hidup sendirian, terlalu lelah untuk berpura-pura baik-baik saja. Orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan yang diberitakan singkat di koran beberapa baris tinta hitam untuk dua kehidupan yang dulu adalah dunianya.
Ia membeli rumah kecil tak jauh dari kediaman keluarga Swan.
Ia tersenyum bila perlu, menjawab bila ditanya, namun lebih sering diam. Tidak ada yang tahu bahwa setiap malam ia berbicara pada keheningan, berharap rasa sakitnya akhirnya lelah sendiri.
Hingga suatu hari, hujan membuatnya jatuh sakit. Dan takdirdengan selera humor yang kejam membawanya ke Forks Community Hospital.
Carlisle Cullen telah hidup terlalu lama untuk terkejut oleh manusia.
Ia telah mendengar tangisan bayi dan napas terakhir orang tua, menyembuhkan yang bisa diselamatkan, dan menerima bahwa sebagian jiwa memang hanya singgah. Ia percaya pada kendali. Pada jarak. Pada disiplin.
Sampai ia mencium aroma itu.
Manis bukan menyengat. Lembut namun menembus. Seperti permen yang larut di lidah waktu, musk halus yang hangat, mawar pucat yang hampir layu, dan sentuhan mint dingin yang jujur.
Aroma yang menyanyi.
Carlisle membeku.
Ia tahu istilah itu.
Ia berharap tak pernah memilikinya.
La Tua Cantante.
Nyanyian pribadi seorang manusia dengan bau
darah yang bukan sekadar menggoda, melainkan memanggil. Bukan pada haus, melainkan pada jiwa.
Bagi Edward, itu adalah Isabella Swan.
Dan bagi Carlisle Cullen Itu adalah Lottie Howard.
Dan hujan di luar jendela terus turun, seolah ikut mendengarkan lagu yang seharusnya tidak pernah dinyanyikan.
🚫WARNING: ada banyak alur atau adegan yang tak sesuai atau tidak urut