Delapan ratus tahun yang lalu, dunia menemui ajalnya.
Kehancuran Mahkota Aetheria mengoyak daratan menjadi dua belas benua beringas dan lima samudra maut. Bencana itu mengubah wujud tujuh belas ras kuno, mengikat mereka pada kutukan alam yang mematikan. Di tengah semesta yang hancur ini, umat manusia tertinggal di dasar rantai makanan, terlahir tanpa setetes pun sihir di dalam nadi mereka.
Untuk bertahan hidup dari kebuasan penguasa langit, raksasa tebing, hingga duyung buta pemakan suara, umat manusia tidak lagi berdoa pada dewa. Mereka menundukkan aturan semesta menggunakan persembahan darah, tinta perak, dan ukiran aksara kuno di atas bilah baja.
Kaelen Vance hidup dari mengais sisa-sisa reruntuhan di Aeris, kepingan benua yang melayang di atas lautan awan. Ia sinis, berhati dingin, dan sangat ahli memadamkan sihir musuh hanya dengan goresan aksara di pedangnya. Namun, hidupnya sebagai pemulung berubah menjadi petaka ketika ia dan Lyra Vane-seorang bangsawan pelarian yang mencuri rahasia dari Istana Cahaya-menemukan sebuah kotak besi purba di relung kuil terlarang.
Isinya bukanlah koin emas atau sekadar catatan masa lalu. Benda yang berdenyut panas itu adalah Jantung Bintang, cangkang kosong dari Mahkota Aetheria yang kelaparan. Relik itu menuntut dikembalikannya tujuh belas kepingan sihir penyusun kiamat, kekuatan absolut yang selama berabad-abad telah dicuri dan tertanam di dalam darah para dewa dan monster penguasa.
Dalam semalam, Kaelen dan Lyra menjadi buronan di seluruh penjuru dunia. Panglima langit ras Avari yang angkuh menuntut kepala mereka. Kaisar emas Solaria melepaskan pembunuh bayangan untuk membungkam mereka. Bahkan monster dari rawa darah Morogoth mulai mencium jejak mereka.
Namun, lelah terus-menerus menjadi mangsa, Kaelen dan Lyra memilih mengubah takdir. Dari dataran beku Thalassa hingga ke sunyinya Samudra Tanpa Angin, mereka berbalik memburu para penguasa dunia. Di tengah pertumpahan darah dan cinta yang tumbuh subur di ujung maut, pili
Todos los derechos reservados