Di sebuah sudut desa di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, di tengah sejuknya udara pagi yang memeluk rimbunnya pepohonan, tangis seorang bayi perempuan memecah kesunyian. Ia diberi nama Marani Klarisa atau lebih akrab dipanggil Icha. Lahir sebagai anak pertama dari lima bersaudara, takdir seolah menenun benang tanggung jawab yang kuat di pundak kecilnya sejak hari pertama ia menghirup udara dunia.
Keluarga Icha adalah warna yang unik perpaduan budaya dua daerah di Sumatra. di tengah masyarakat Kabupaten Langkat Provinsi Sumatra Utara. Sang Ibu adalah sosok perempuan terpelajar yang mengabdikan diri sebagai guru agama Islam bernama Mariana Siregar-seorang pelita yang menanamkan fondasi moral, ketulusan, dan keimanan yang kokoh. Sementara sang Ayah adalah lelaki berotak cemerlang dan berjiwa petualang asal Sumatra Barat bernama Machmudin. Ayah Icha memiliki segudang keahlian: mulai dari berdagang, meracik dan menjual nasi matang lengkap dengan berbagai lauk pauk lezat, hingga pernah mengarungi samudera luas sebagai seorang chef di kapal. Dari sang Ayah-lah Icha mewarisi kecerdasan, ketajaman berpikir, dan mental baja yang tak mudah patah.
*Kenangan Manis di Tanjungpura*
Masa kecil Icha di Langkat diwarnai dengan kehangatan sekolah dasar di perguruan Muhammadiyah di Tanjungpura. Di sanalah Icha, dengan pembawaannya yang tomboy, lincah, namun tetap menjunjung tinggi sportivitas, tumbuh menjadi anak yang menonjol. Meskipun cerdas, Icha bukan tipe anak yang suka pamer atau mencari perhatian. Ia lebih sering asyik dengan dunianya sendiri, tenggelam dalam buku pelajaran Bahasa Inggris dan Geografi yang memperluas imajinasi tentang dunia di luar Sumatra.
Di sekolah itu pula, hari-hari Icha ditemani oleh seorang sahabat kecil lelaki bernama Rizal. Suara tawa dan senandung kecil sering kali terdengar di antara jam istirahat mereka.
All Rights Reserved