Aruna is Here?

Aruna is Here?

  • WpView
    Reads 60
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Aug 26, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
"MATI AJA LO, SIALAN!" "ANAK PEMBAWA SIAL!" "SAMPAH!" "DASAR AIB KELUARGA!" "BEBAN KELUARGA!" "Kalau saja hari itu kamu nggak lahir, mama pasti masih hidup." "Kenapa kalian baru mencariku... saat aku sudah pergi?" *** PERHATIAN ⚠️‼️ Apabila ada kesamaan nama tokoh, judul, tempat, dan alur itu diluar tidak kesengajaan. Cerita ini, murni hasil dari pikiran dan imajinasi aku sendiri. Karakter beda, jalan cerita beda, kalau ada yg sama berarti kebetulan. No ngehina, kalau ga suka skip! DIWAJIBKAN FOLLOW SEBELUM BACA!!
All Rights Reserved
#56
puisi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Angin Kota Bekasi [ TERBIT ]
  • DIA AURORA
  • Loving in Silence [THE END]
  • Caramel Machiato ✅
  • AREKSA (END)
  • Dermaga
  • ruzher
  • DIA ANGKASA
  • MARVELUNA [On-going]
  • HUJAN TERAKHIR (On Going)

[Telah Dibukukan, Tidak tersedia di Gramedia] Bab tidak lengkap, baca versi lengkapnya di Novel Angin Kota Bekasi beserta quotes anak-anak wind ~~~ Angin Bekasi bawa luka, tapi juga bawa rumah buat kami. Di kota yang katanya terlalu panas untuk diam dan terlalu keras untuk pulang, suara deru motor jadi bahasa yang lebih jujur dari manusia. Mahendra Bagaskara, bukan siapa-siapa. Bukan pahlawan, bukan anak baik, bukan juga pemilik mimpi besar. Tapi satu hal yang nggak pernah dia lupakan: rasa setia untuk tempat yang ia sebut rumah kedua, Wind Bekasi. Bersama puluhan anak jalanan lainnya, Mahen hidup di antara knalpot berkarat, jaket kulit robek, dan tawa yang keras kepala. Mereka bukan geng motor sembarangan. Mereka pulang saat jalanan lengang, dan hidup saat angin kota mulai liar. Ini bukan tentang balapan. Bukan tentang cinta. Tapi tentang luka yang dibungkus tawa, kesetiaan yang nggak butuh kata, dan keluarga yang tercipta bukan dari darah... Tapi dari debu jalanan dan janji yang nggak pernah ditulis. Karena bagi mereka "Angin Bekasi boleh panas, tapi markas ini selalu dingin buat hati yang pulang." "Angin gak pernah punya rumah, tapi kami punya markas. Angin gak pernah punya suara, tapi kami satu kata. Pulang bareng, mati bareng." - Wind Bekasi "Gue gak banyak janji. Tapi gue selalu balik ke tempat yang gue anggap rumah." - Mahendra Bagaskara Salam, dari Angin Kota Bekasi 💨 ~~~

More details
WpActionLinkContent Guidelines