Liburan keluarga yang penuh harapan berubah menjadi bencana tak terbayangkan. Saat menyusuri jalan pegunungan berkelok di Kings Canyon, mobil yang dikemudikan Ema tergelincir di permukaan basah dan licin, lalu jatuh ke dasar jurang curam. Berkat bantal penyangga yang selalu ia bawa di kursi kemudi, Ema selamat hanya dengan luka ringan di dahi. Namun keluarganya tidak seberuntung itu, ibunya Delilah hanya mengalami lecet, kakak sulungnya Vega terluka parah hingga tak sadarkan diri, kembarannya Emi menderita cedera kepala dengan pusing yang tak kunjung hilang, serta keempat cucu Delilah, Alyx, Kai, Noah, dan Noam, mengalami cedera ringan namun terkejut dan kedinginan.
Hanya lima menit setelah mereka semua keluar, mobil meledak dan terbakar habis. Tanpa sinyal, tanpa perlengkapan, dan cuaca makin buruk, satu-satunya harapan adalah memanjat tebing terjal mencari bantuan. Ema bersikeras pergi sendiri, ia paling tidak terluka, dan takut membawa Emi yang pusing justru membahayakan keduanya.
Saat ia terbangun setelah terpeleset di tengah badai, ia merasa baru berlalu beberapa jam. Namun saat kembali dengan pertolongan, yang menanti bukan pelukan, melainkan kerangka keluarganya yang saling berdekatan menunggu. Kecelakaan itu terjadi tiga puluh tahun lalu. Baginya berlalu lima jam. Bagi dunia, tiga puluh tahun penuh. Jurang itu tidak sekadar menelan mereka. Ia menelan waktu itu sendiri.
جميع الحقوق محفوظة