Pukul tujuh pagi itu dan seperti hari-hari biasa di SMA Meridian Bakti: bel masuk berbunyi, murid-murid berlarian menuju kelas sebelum terlambat, dan Xander sedang sibuk menghafal rumus kimia semalam yang, sialnya, sudah menguap begitu saja dari kepalanya.
Tidak ada yang tahu bahwa dua ruangan dari sana, di klinik sekolah, seorang murid yang baru pulang dari pertukaran pelajar sedang menggigil demam tinggi dengan mata memerah-dan dalam hitungan jam, sekolah yang biasanya ramai oleh tawa dan suara sepatu berlarian di koridor itu akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada ujian akhir semester mana pun.
Ketika kekacauan pecah, Xander dan teman-teman sekelasnya terjebak di dalam gedung sekolah yang terkunci dari luar-entah oleh siapa, entah untuk melindungi siapa. Mereka berpikir, kalau saja bisa bertahan sampai bantuan datang, semua akan baik-baik saja.
Tapi ponsel yang sinyalnya masih menyala sesekali membawa kabar yang jauh lebih buruk dari yang mereka kira: pesan-pesan panik dari orang tua yang tidak bisa dihubungi, siaran berita yang tiba-tiba terputus di tengah kalimat, dan grup keluarga yang berhenti membalas satu per satu. Apa pun yang sedang terjadi di dalam sekolah mereka, ternyata juga sedang terjadi di seluruh kota-mungkin lebih luas dari itu.
Tidak akan ada yang datang menyelamatkan mereka. Karena di luar sana, semua orang sedang berusaha menyelamatkan diri sendiri.
Semakin lama mereka terkurung bersama, semakin jelas satu kebenaran yang lebih menakutkan dari sekadar makhluk-makhluk di luar sana: kadang, ancaman paling berbahaya bukan datang dari mereka yang sudah berubah-melainkan dari mereka yang masih hidup, dan mulai memilih siapa yang boleh selamat, dan siapa yang harus dikorbankan.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang