The Ghost Hunter Next Door

The Ghost Hunter Next Door

  • WpView
    Membaca 1,185
  • WpVote
    Vote 257
  • WpPart
    Bab 25
WpMetadataReadDewasaBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Rab, Sep 9, 2026
WpInfo
Fiksi
LGBTQIA+
Gay
Biseksual
Pengakuan dan Penerimaan Diri
"Yang ini Mas Pocong. Dia unik soalnya tali bagian atasnya agak keriting. Harganya lumayan mahal." "Kalau yang satu ini, Boru Kunti. Asalnya dari Medan. Karena rambutnya udah rontok, harganya gak terlalu bagus. Cuma kalau untuk koleksi pasti banyak yang mau." "Ini Akang Pocong, nomor dua. Dia dari Pangandaran. Makanya dipanggil Akang. Dia bisa terbang. Harganya selangit! Saya masih tawar-menawar sama yang mau beli." Nama gue Amrus, dan gue punya tetangga baru. Orangnya berisik, aneh, ganggu banget. Tapi yang paling penting, dia itu seorang pemburu setan. Buat gue yang seorang perantau dan tinggal sendiri, masalah gue udah kepalang banyak. Gue gampang meledak kalau ada orang yang ganggu. Apalagi, urusan pekerjaan bikin kepala gue hampir pecah. Tapi anehnya, sama si pemburu setan gue bisa akrab. Padahal, awalnya gue nganggap dia orang gila! Apa sebenarnya gue juga udah gila tanpa sadar? "A Amrus mau saya kasih si Tuyul koreng yang ini gak? Harganya sekarang masih murah, tapi kalau disimpan dan dijual sepuluh tahun dari sekarang, mungkin bisa naik harganya." "Enggak! Gue pelihara lo aja, deh. Tidur di kamar gue lagi 'kan malam ini?" "Boleh, A! Malam ini kayaknya bakal banyak setan deh di kamar Aa."
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • RUMAH TERAKHIR (BXB)
  • Akar Yang Pulang
  • (BL) The Rebirth of the Forsaken Moon (END)
  • Karamel #1
  • Senja Yang Sejajar
  • Wintang Wira; Seni Itu Indah
  • Garis Komando Hati
  • Kontrakan Pak Umar [Tamat]
  • Love Under The Mistletoe
  • 98.6 FM

Ketika Vehan datang ke desa terpencil bernama Sukatama, ia hanya berniat membantu di puskesmas yang hampir roboh dan menyembuhkan luka-luka ringan. Ia tidak menyangka akan bertemu Bagas - pemuda desa yang tatapannya tajam, ucapannya dingin, dan hatinya tertutup rapat oleh masa lalu. Di antara sawah yang sunyi dan langit yang terlalu sepi, dua orang asing saling bersinggungan. Dan pelan-pelan... mereka belajar bahwa rumah bukan tempat, tapi rasa yang tinggal di dada.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan