Bagi Tomok, bertahan hidup di tanah rantau Palembang bukan sekadar tentang lulus kuliah, melainkan perjuangan berdarah-darah di tiap tikungan jalan. Demi menyambung asa dan membayar uang semesteran, Tomok harus mengikis habis rasa gengsinya. Setiap lampu merah berganti merah di perempatan kota, dengan baki kayu tersampir di leher, Tomok sigap menjajakan racikan kopi hangatnya ke para pengendara di tengah kepulan asap kendaraan dan terik matahari yang menyengat.
Beruntung, Tomok tidak berjuang sendirian. Ada Dodo, sahabat sekontrakan di daerah Sekip yang selalu punya 1001 taktik hemat ala mahasiswa-mulai dari lari pagi di sekitar Jembatan Ampera, makan porsi gunung di warung Pak Ndut, hingga berburu kemeja loak sepuluh ribuan di lantai tiga Pasar 16 Ilir agar Tomok tetap bisa tampil rapi di kampus.
Namun, di tengah perjuangan kerasnya menyeduh kopi dan menatap masa depan, sebuah kejadian di kontrakan tua mereka mengubah segalanya. Sebuah lemari kayu lapuk bergeser, menyibak stopmap cokelat lusuh berstempel merah tebal: **RAHASIA**.
Dokumen rekam medis tua itu mencatat nama **Rama**, pria kelahiran Palembang tahun 1982, dengan satu baris catatan dokter bertinta hitam yang ganjil: *sebuah riwayat aneh yang selalu bangkit tiap kali suara radio tua berkumandang di sore hari.*
Ketika dokumen rahasia ini tak sengaja terseret ke tengah riuhnya kantin kampus, geng mahasiswa Tomok-Emil yang kepo setengah mati, Haris yang sok analisis, Lisa dengan celetukan pedasnya, dan Lisna yang selalu polos serta lambat *loading*-mulai mengutarakan berbagai spekulasi kocak sekaligus menegangkan.
Di antara denting sendok kopi di tepi jalan, aroma wangi kemeja BJ sepuluh ribuan, dan impian untuk meraih gelar sarjana-siapakah sebenarnya Rama? Dan mampukah Tomok mempertahankan bangku kuliahnya di tengah himpitan ekonomi serta teka-teki masa lalu yang p
All Rights Reserved