Dua bulan telah berlalu sejak Kesya dan Dirga mengucap janji suci. Dalam waktu singkat itu, satu hal menjadi semakin jelas, Dirga tak pernah bisa jauh dari istrinya. Sikap posesif tumbuh dari rasa cinta yang begitu dalam, seolah ia takut kehilangan Kesya walau hanya sedetik. Ia selalu ingin tahu dimana Kesya berada, dengan siapa ia berbicara, bahkan hal-hal kecil seperti pakaian apa yang ia kenakan.
Kesya, dengan senyum manis dan tatapan lembutnya, tak pernah merasa tertekan di awal. Justru, setiap kali Dirga menunjukkan rasa cemburu atau melarang melakukan sesuatu yang Dirga tidak suka. Ia merasa hangat, seperti ada benteng yang selalu melindunginya. Baginya, posesif Dirga adalah bentuk kasih sayang yang nyata, tanda bahwa ia begitu berharga di mata suaminya.
Hari-hari mereka dipenuhi momen kecil yang indah. Dirga sering membawakan bunga tanpa alasan, atau sekedar memeluk Kesya dari belakang saat ia sedang memasak. Mereka sering menghabiskan malam dengan menonton film sambil berbagi selimut, atau berjalan-jalan sambil bergandengan tangan.
Hingga pada suatu malam, hujan turun deras di luar jendela. Kesya duduk di tepi ranjang, menatap lantai dengan mata berkaca-kaca. Dirga yang baru keluar dari kamar mandi melihatnya, lalu duduk di sampingnya. "Kamu kenapa?" tanyanya pelan.
Kesya menarik napas panjang, lalu berkata lirih, "Aku mau kita cerai, Dirga"
Kata-kata itu menghantam Dirga seperti badai. Ia tak pernah membayangkan Kesya akan meminta mengakhiri hubungan mereka.
All Rights Reserved