Puisi tentang sebuah rumah yang dulu tidak pernah benar-benar sepi.
Di dalamnya pernah tinggal tawa, langkah-langkah kecil, dan senyum yang tidak membutuhkan alasan.
Namun waktu perlahan mengosongkannya.
Kini rumah itu masih berdiri, masih bernapas, tetapi tidak lagi terasa sama. Jendelanya menyimpan terlalu banyak malam, dan jejak-jejak kecil yang pernah ada perlahan disapu ombak.
Sebuah surat yang mungkin tidak pernah benar-benar dikirim-
dari seseorang yang sedang mencoba menemukan kembali bagian dirinya yang pernah hilang.
Untukmu yang pernah tinggal di sana.
Untukmu yang mungkin masih menunggu di dalam rumah itu.
All Rights Reserved