Ada alasan mengapa Humaira selalu menjadi orang pertama yang terjaga sebelum fajar berkumandang. Bagi seorang anak sulung, ketenangan bukanlah pemberian, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan sendirian, di sela lembaran buku, doa-doa sepertiga malam, dan tawa tiga adik yang harus dia jaga dari dinginnya keheningan rumah.
Setiap keputusan yang dia ambil selalu rasional. Termasuk melangkah jauh meninggalkan kota kelahirannya menuju tanah perantauan. Maira pikir, jarak ratusan kilometer dan riuhnya panggung baru di kampus akan cukup untuk meredam riuh di kepalanya.
Namun, tanah perantauan punya caranya sendiri untuk menguji benteng pertahanan yang sudah Maira bangun rapat-rapat. Di antara riuhnya pergerakan mahasiswa, batas-batas yang dia patuhi, dan sebuah presensi tenang yang mengamati dari kejauhan, Maira perlahan menyadari bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dikendalikan hanya dengan logika dan disiplin.
Todos los derechos reservados