"𝐊𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐩𝐚?"
Pertanyaan yang begitu sederhana, tetapi tidak pernah berani aku tanyakan. Mungkin karena aku takut dengan jawaban yang akan keluar dari mulutnya.
Atau karena memang sejak awal, kami bukan sepasang kekasih.
Apalagi, di antara aku dan dia tidak pernah ada janji untuk saling menetap. Bahkan aku maupun dia tidak pernah benar-benar punya hak untuk cemburu satu sama lain.
Tapi entah sejak kapan, dia menjadi bagian dari hari-hariku.
Seseorang yang kucari ketika ada cerita. Seseorang yang kucari ketika hari sedang buruk. Seseorang yang keberadaannya perlahan berubah menjadi rutinitas.
Aneh, ya?
Bagaimana seseorang bisa menjadi begitu penting tanpa pernah benar-benar menjadi milik kita?
-
-
"𝐉𝐮𝐣𝐮𝐫... 𝐚𝐤𝐮 𝐬𝐮𝐤𝐚 𝐤𝐚𝐦𝐮, 𝐋𝐨𝐯𝐢𝐞."
Kalimat itu seharusnya menjadi hal yang biasa.
Tapi sejak hari itu, aku mulai melihat hubungan kami dengan cara yang berbeda.
Mungkin aku mulai berharap.
Mungkin dia juga begitu.
Atau mungkin kami hanya dua orang yang terlalu nyaman berada di antara kata "𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧" dan sesuatu yang lebih dari itu.
"𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐬𝐮𝐚𝐭𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐡..."
Kalimatnya terhenti begitu saja. Ia menundukkan pandangan sejenak, seolah sedang menimbang sesuatu yang bahkan sulit untuk diucapkan.
Aku mengernyit, mencoba menangkap maksud dari kalimatnya yang menggantung.
"𝐌𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐡 𝐚𝐩𝐚?"
Tatapanku masih tertuju padanya, menunggu jawaban.
Namun, alih-alih menjawab, ia justru mengangkat sudut bibirnya. Senyum tipis terukir di wajahnya, begitu tenang sampai-sampai membuatku semakin tidak mengerti.
Mungkin, memang tidak semua hal harus punya jawaban saat itu juga.
【 𝓜𝓪𝓽𝓬𝓱𝓪. 𝓛𝓪𝓽𝓽𝓮? 】
❝𝘛𝘦𝘯𝘵𝘢
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang