BIDADARI SURGAKU YANG NAKAL
Gus Labib Dary Chairil, 30 tahun, adalah putra Kiai dan Nyai di Pondok Pesantren Al-Anwar. Di balik sosoknya yang tenang, ia sedang berjuang melawan kanker sumsum tulang belakang stadium 2.
Sejak pertama kali bertemu, Gus Labib langsung menyukai seorang gadis berusia 22 tahun, putri dari sahabat abinya.
Gadis itu memiliki kehidupan yang jauh dari dunia pesantren. Ia suka pergi ke klub malam hingga akhirnya kedua orang tuanya memasukkannya ke Pondok Pesantren Al-Anwar agar ia belajar agama dan berubah menjadi lebih baik.
Namun, meskipun sudah tinggal di pondok, ia masih dikenal sebagai santri nakal.
Gadis itu bertubuh mungil dengan tinggi 156 cm dan berat 50 kg. Wajahnya cantik, kulitnya cerah, dan rambut hitamnya panjang serta tebal.
Pertemuan pertama mereka terjadi di rumah Kiai dan Nyai.
Gus Labib berjalan masuk ke ruang tamu. Tiba-tiba kakinya terasa sakit hingga ia mengangkat salah satu kakinya.
Gadis itu langsung menatapnya.
"Lu kenapa?"
Gus Labib menjawab dengan tenang,
"Saya sakit. Kanker sumsum tulang belakang stadium 2."
Gadis itu hanya menjawab singkat,
"Oh."
Kiai yang melihat kejadian itu langsung berkata,
"Nak, sini. Duduk dulu."
Gus Labib mengangguk.
"Iya, Bi."
Namun, sejak pertemuan pertama itu, Gus Labib justru semakin menyukai gadis tersebut.
Seorang Gus yang sedang berjuang melawan kanker jatuh cinta kepada seorang santri nakal yang dimasukkan ke pondok karena suka pergi ke klub malam.
Akankah Gus Labib mampu mengajak gadis itu kembali kepada Allah?
Atau Allah justru memanggil Gus Labib pulang ke sisi-Nya sebelum gadis itu menemukan jalan kembali kepada Allah?
"Dia santri nakal yang jauh dari Allah.
Aku adalah Gus yang sedang berjuang melawan kanker.
Tapi entah kenapa, aku ingin menjadi alasan dia kembali kepada-Nya."
Baca kisah mereka selengkapnya dalam Bidadari Surgaku yang Nakal.
Tous Droits Réservés