Keheningan seberat belenggu. Napas yang tertahan. Dan setetes ludah yang mengubah takdir. Phuwin pikir keberaniannya bisa menyelamatkannya. Ia salah. "Rumahmu sudah terbakar sejak kamu melangkah masuk ke sini." Satu kalimat. Dan dunia Phuwin runtuh. Pond tidak marah. Pond hanya... tersenyum. Senyum seorang predator yang akhirnya menemukan mainan paling liar untuk dikurung. Di ruangan ini, tidak ada pintu keluar. Hanya ada aturan Pond. Tatapan Pond. Dan cengkeraman Pond yang tidak akan pernah lepas dari tengkuk Phuwin. "Tubuhmu. Keberanianmu. Bahkan air matamu yang jatuh... Semuanya milikku, _ma chérie_." Ini bukan cinta. Ini obsesi. Ini kepemilikan mutlak. Dan Phuwin harus belajar satu hal: Menangislah jika memang harus menangis... Tapi lakukan itu sambil menatap mataku.
Detail lengkap