Di mata Ayah Arian, cuma ada Yovaraz.
Bagi Arian, Yovaraz adalah segalanya-anak emas yang harus dijaga dan dikasihi sepenuh jiwa. Sementara Daniswara? Dia cuma dianggap angin lewat. Sosok kakak laki-laki yang gak pernah dianggap ada, kecuali saat Ayah butuh tempat untuk melampiaskan seluruh amarahnya.
Yovaraz tahu betul cara memanfaatkan kasih sayang buta sang ayah. Di balik senyum polosnya, Yovaraz adalah dalang manipulatif yang pandai bersilat lidah. Setiap kekacauan yang dia buat, selalu Daniswara yang harus menanggung akibatnya. Pukulan, makian, hingga luka batin yang tak terlihat, sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Daniswara sejak ibu mereka meninggal dunia.
Daniswara sudah berusaha bertahan. Dia terus mengalah, berharap suatu hari sang ayah akan menatapnya dengan rasa sayang yang sama. Tapi ada batas di mana jiwa yang remuk tak mampu lagi menampung rasa sakit.
Ketika rasa lelah itu mencapai puncaknya, Daniswara memilih untuk menyerah. Dia membiarkan dirinya jatuh dan melebur dalam pelukan maut-satu-satunya tempat di mana dia akhirnya menemukan kedamaian yang sejati.
Dan saat napas itu benar-benar terhenti, barulah penyesalan yang terlambat datang menghantam jiwa Arian dan Yovaraz. Penyesalan berdarah yang tak akan pernah bisa memutar kembali waktu..
All Rights Reserved