Alesha Humaira Pradipta tidak pernah menyangka bahwa perjodohan sederhana akan membawanya ke sebuah pernikahan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Menikah dengan Arkan Mahendra Wijaya, direktur muda pemilik Wijaya Artha Group, seharusnya menjadi awal kehidupan baru. Namun bagi Arkan, pernikahan itu hanyalah sebuah kewajiban untuk memenuhi permintaan sang nenek.
Arkan adalah laki-laki yang terkenal dingin, tegas, keras, dan tidak mengenal belas kasihan. Terlebih lagi, hatinya masih dipenuhi oleh satu nama perempuan dari masa lalu yang belum mampu ia lepaskan.
Karena itu, Arkan menawarkan sebuah perjanjian pernikahan kontrak selama satu tahun. Tidak ada cinta. Tidak ada tuntutan. Tidak ada campur tangan dalam kehidupan pribadi bahkan tidak ada kewajiban sebagai suami dan istri. Mereka hanya tinggal di bawah satu atap tapi tinggal di kamar yang berbeda satu sama lain. Kehidupan berbeda.
Di rumah yang begitu besar, Alesha dan Arkan justru menjadi dua orang asing yang kebetulan memiliki status sebagai suami istri.
Alesha menerima semuanya dengan sabar ia tidak pernah menuntut nafkah lebih dari yang diperlukan. Tidak pernah memaksa Arkan mencintainya. Tidak pernah mempertanyakan perempuan yang masih ada di hati suaminya. Ia hanya menjalankan perannya dengan sebaik mungkin.
Namun di balik wajah teduh dan senyum yang selalu ia tunjukkan, Alesha menyimpan luka yang tidak pernah diketahui siapa pun. Setiap malam, ketika rumah telah sunyi, air matanya jatuh tanpa suara. Hingga suatu hari, kesabarannya mencapai batas Alesha memilih pergi. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada tuntutan. Tidak ada pesan panjang ia hanya meninggalkan sebuah amplop cokelat berisi surat perceraian dan tanda tangannya. Saat itulah Arkan sadar akan satu hal bahwa kehilangan Alesha ternyata jauh lebih menyakitkan daripada hidup bersamanya. Lalu bagaimana kelanjutan hubungan kontrak itu? Akankah Arkan membiarkan begitu saja atau berusaha untuk memulai baru?
Jangan lupa mampir baca guys 😉
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang