Di mata orang lain, Angkasa dan Luna adalah dua garis yang selalu ditakdirkan berjalan beriringan. Angkasa adalah sang jenius Biologi dengan ambisi besar yang melaju cepat, sementara Luna adalah gadis Kimia yang cermat, tenang, dan selalu mengamati dunia lewat kacamata logikanya. Namun, melangkah di samping seseorang yang berlari terlalu jauh perlahan-lahan mengikis rasa percaya diri Luna.
Melihat langkah Angkasa yang makin tak terjangkau dan masa depan mereka yang berpotensi memisah, rasa minder bergolak hebat di dada Luna. Merasa dirinya hanya akan menjadi batu sandungan yang menahan laju cemerlang sahabat masa kecilnya, Luna mengambil keputusan paling aman yang ia tahu: menarik diri, membangun benteng dingin, dan menciptakan jarak serapi mungkin di antara mereka.
Namun, Angkasa menolak membiarkan orang paling berarti dalam hidupnya mengasingkan diri begitu saja. Bagi Angkasa, seberapa cepat pun ia melangkah dan seberapa rumit dunia di kepalanya, Luna adalah satu-satunya poros yang membuat semuanya terasa masuk akal. Di tengah ketatnya ruang karantina sekolah dan tekanan kompetisi yang makin dekat, Angkasa berjuang keras meruntuhkan benteng dingin yang dibangun Luna dan membuktikan bahwa keberadaan gadis itu tidak pernah menjadi sebuah beban.
Di antara rasa takut tidak sepadan, gengsi yang mengeras, dan ambisi masa depan, Angkasa dan Luna harus merumuskan kembali perasaan mereka, "apakah teori tentang 'kita' masih memiliki ruang untuk bertahan, ataukah mendewasa berarti belajar saling melepaskan?"
---
Sebuah cerita tentang keberanian untuk jujur pada perasaan, meruntuhkan benteng minder di hadapan orang yang dicintai, dan menemukan kembali arti kebersamaan.
Tous Droits Réservés