"Beda karakter, beda luka. Namun di bawah pendar langit yang sama, mereka bertarung sebagai satu jiwa."
Bagi anak-anak SMA Garuda, kelas 11 IPS 7 mungkin hanya dianggap sebagai sebuah ruang belajar biasa. Namun bagi Maranata, Gilbert, Adriano, Cristian, Hana, Liana, dan Christine, kelas itu adalah rumah tempat ketujuh jalan hidup mereka bersimpangan.
Mereka lahir dari aksara yang berbeda-beda: Maranata sang lentera yang menenangkan, Gilbert dan Adriano benteng tanpa rasa takut yang selalu pasang badan, Cristian sang pilar tangguh yang tak tergoyahkan, serta Hana, Liana, dan Christine yang menjadi hati serta perekat hangat di antara mereka.
Namun, persahabatan mereka tidak melulu berisi tawa.
Dari riuh persiapan pameran seni hingga malam tragis di tepi Pantai Pasir Putih yang hampir merenggut nyawa, ombak trauma dan gulungan arus laut menguji sejauh mana ikatan itu bisa bertahan. Saat salah satu dari mereka terbaring tak berdaya di antara bunyi monitor detak jantung rumah sakit, ketakutan terbesar mereka teruji: apakah ketujuhnya sanggup bertahan hingga akhir?
Ini bukan sekadar cerita tentang seragam putih-abu atau riuhnya lorong sekolah. Ini adalah rekam jejak tujuh ksatria yang belajar bahwa sedalam apa pun luka dan sekuat apa pun badai menerjang, mereka tidak akan pernah membiarkan satu pun melangkah sendirian.
Sebab bagi 11 IPS 7, mereka mungkin tujuh aksara yang berbeda... namun persahabatan telah menempa mereka menjadi satu jiwa.
"Ditulis untuk setiap persahabatan yang pernah melewati badai, dan tetap memilih untuk bertahan bersama di bawah langit yang sama."
All Rights Reserved