Ajaib! (Orine)

Ajaib! (Orine)

  • WpView
    Reads 40
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 30, 2026
WpInfo
Fiction
Fantasy
Kalian pernah kepikiran gak? Kalau gambar atau lukisan yang kalian buat, tiba dateng ke hadapan kalian. Aneh kan? Mana mungkin gambar tiba tiba jadi nyata. Berawal dari oline, yang tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang ia pikir mungkin hanya orang biasa. Tetapi, ternyata seseorang itu bukan orang biasa. Ia hanya mengatakan. "Aku capek deh sendiri, memang rasanya tenang, tapi kesepian aja, coba kalau ada orang yang tiba tiba mau temenan sama aku" "Bisa kok" "Maksutnya?" Seharusnya tidak akan terjadi hal hal yang diluar dugaan, tetapi oline malah memiliki rasa suka dengan salah satu dari mereka. Baca yuk! Kalau banyak yang baca, kan semangat.
All Rights Reserved
#59
orinejkt48
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ibu Tiri Menolak Mati di Kehidupan ke-7
  • Rumah Untuk Sang Tiran
  • Transmigrasi: The Villain's Stepmother
  • AS : The Side Character's Rebirth
  • The Vampire's Sacred Fate
  • My First Life, Rewritten
  • Shaenette: Skenario Kedua
  • The Silent Bloom [END]
  • The Duke's Red String (Lengkap - Pre Order)
  • Sin of The Villainess

Enam kali mati dibunuh tepat di usia 22 tahun. Di kehidupan ketujuh, Ravenna menolak menjadi mangsa. Sebagai seorang mantan pendidik, Ravenna tahu cara terbaik menghukum orang bodoh bukanlah dengan air mata, melainkan dengan merampas apa yang paling mereka hargai. Maka, ia membatalkan pertunangannya dengan Putra Mahkota secara elegan, mengosongkan brankas ayahnya, dan menyerahkan diri kepada pria paling berbahaya di benua itu-Grand Duke Alaric von Blackwood, sang Monster Utara. Tawarannya sangat sederhana: "Jadikan aku istri kontrak selama lima tahun. Aku akan mendidik dua anakmu dan menjadi perisai politik dari hukum Istana. Setelah anak-anakmu aman, ceraikan aku dengan pesangon emas." Bagi Ravenna, ini hanyalah transaksi bisnis. Ia hanya ingin selamat dari maut dan pensiun dengan tenang. Namun, logika dan rencananya gagal meramalkan satu hal... Dua anak tiri yang konon 'monster' itu kini menangis memeluk kakinya, enggan dilepaskan. Sementara sang Grand Duke yang terkenal berhati beku? Pria itu menatap Ravenna dengan sorot posesif yang menggelapkan akal sehat. "Kau yang memulai permainan ini, Istriku. Jangan harap aku akan melepaskan apa yang sudah menjadi milikku."

More details
WpActionLinkContent Guidelines