Bagi Renjana, dunia hanyalah himpunan tanah tua, batuan purba, dan bisikan alam yang tak pernah mengkhianatinya. Namun, kehilangan sang adik meluruhkan seluruh separuh jiwanya. Meninggalkan Jakarta dan melangkah ke jalanan berbatu Barrio Santa Cruz di Sevilla adalah upayanya untuk bersembunyi dari duka-berharap dinginnya Spanyol mampu membekukan rasa sakit yang ia simpan sendirian selama dua tahun.
Hingga suatu sore yang kuyup oleh hujan, langkahnya terhenti di sebuah toko roti kecil. Di balik aroma kayu manis dan hangatnya kopi panas, sebuah sapaan lembut bernada familiar menyapa: "Kerja atau menetap di sini?"
Arunika hadir seperti namanya-cahaya fajar yang pelan-pelan menyusup di antara celah gelap hidup Renjana. Dari petikan musik jazz di sudut kafe remang, sketsa-sketsa yang terjatuh, hingga heningnya badai salju di Pegunungan Alpen, Arunika mengajari Renjana satu hal yang tak pernah ia temukan dalam penggalian arkeologinya: cara mencintai manusia.
Ini adalah sebuah rekam jejak tentang bagaimana dua jiwa saling menemukan, bertahan melewati musim, dan merayakan tiap detik waktu yang diberikan. Sebuah monolog penuh cinta, kehangatan, dan sebuah rahasia terbesar yang tersimpan rapat hingga hela napas terakhir.
Todos os Direitos Reservados