Di bawah tirai gerimis yang membasuh hamparan hijau Rancabali, dua benang takdir sempat terikat dalam sebuah janji yang terbisik samar di tepi telaga. Sebuah janji sederhana tentang kepastian, bahwa jika riak waktu memang mengizinkan, takdir akan selalu menemukan jalannya untuk mempertemukan kembali dua raga yang saling menanti.
Namun, Jakarta bukanlah telaga sunyi beratap kabut. Ibu kota adalah rimba megah yang bising, tempat impian dirajut bersama riak karsa dan intrik kehidupan. Di tengah deretan gedung pencakar langit dan riuk jalanan beraspal, Arga kembali mengayuh harapannya, menembus jarak demi menemukan kembali kepingan rasa yang tertinggal. Sementara itu, Launa terkepung dalam sangkar emas yang sunyi-terjepit di antara luka tersembunyi keluarganya dan takdir perjodohan yang tak pernah ia inginkan.
Ketika benang takdir yang terajut indah itu akhirnya mempertemukan mereka kembali di sudut sekolah, mereka tak pernah menduga bahwa takdir juga menyembunyikan sisi gelapnya. Di balik setiap tatapan kerinduan dan tawa yang samar, ada bayang-bayang luka, cemburu yang membakar, serta badai malam yang siap merenggut segalanya dalam sekejap mata.
Ini adalah kisah tentang Arga dan Launa, janji di tepi danau, dan sebuah perjuangan meniti jalan terjal kehidupan-di mana cinta, keteguhan, dan garis takdir diuji di batas antara keajaiban dan kedukaan.
Todos los derechos reservados