Setiap koyakan, rok sekolah, kemeja bekerja, sampai kehidupan Tias, Bapak selalu bisa menjahitnya. Dan jika hidup harus berulang berkali-kali, aku tetap ingin menemukan Bapak di setiap kehidupan.
Tias memiliki keluarga lengkap ; Kakak, Ibu dan Bapak. Tapi entah kenapa rasanya hanya Bapak yang bisa disebut rumah. Mungkin karena dari anggota keluarga yang ada, hanya Bapak yang selalu hadir saat Tias bahagia, berantakan, atau bahkan ketika dunia sedang tidak adil, Bapak jadi orang pertama yang berpihak padanya.
Sampai suatu hari, semua orang mengatakan hal yang sama.
Bahwa, Bapak sudah tidak ada.
Ibu selalu marah dan bersikeras bahwa Bapak sudah tidak ada. Kakakmengatakan hal yang sama, bahkan Siti dan Jaya mempertanyakan kewarasan Tias.
Tapi ada satu hal yang gak bisa mereka bantah. Bapak masih duduk di teras setiap kali Tias pulang.
Todos los derechos reservados