HALLO, PAPA!

HALLO, PAPA!

  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Mga Boto 3
  • WpPart
    Mga Parte 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Fri, Sep 4, 2026
WpInfo
Fiction
Social Themes
Growth and Self-Discovery
Family Life
Mental Health and Neurodiverse
Ravel sudah terbiasa hidup sendiri sejak kedua orang tuanya memilih jalan masing-masing. Apartemen itu akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang ia punya untuk pulang. Malam ulang tahunnya pun tidak jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya. Tidak ada pesta, tidak ada keluarga yang datang. Hanya sepotong kue kecil di atas meja dan dirinya sendiri yang duduk menatap lilin. Sebelum meniupnya, Ravel memejamkan mata. "Semoga suatu hari nanti gue punya keluarga yang bahagia. Punya pasangan yang saling sayang... terus punya anak cowok yang gantengnya nurun dari gue." Setelah mengucapkan amin, ia meniup lilinnya dan menganggap doanya selesai sampai di situ. Ternyata Tuhan punya cara yang cukup unik untuk menjawabnya. Keesokan paginya, Ravel baru saja membuka mata ketika menyadari ada seseorang berdiri di depan tempat tidurnya. Seorang bocah laki-laki. Kecil, masih dengan wajah polos dan rambut yang sedikit berantakan. Yang membuat Ravel semakin bingung, wajah bocah itu terasa tidak asing. Ada sesuatu dari wajahnya yang mengingatkan Ravel pada dirinya sendiri ketika masih kecil. Tapi sebelum pikirannya semakin ngawur, bocah itu tiba-tiba berlari menghampirinya dan memeluk kakinya erat-erat. "Papa!"
All Rights Reserved
#558
persahabatan
WpChevronRight
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • ​Adopted? (I Wish) [END]
  • Sastru Pinanganten
  • REGAN's Crazy Wife
  • "Liburan" Bonus Suami
  • Wismatama
  • Luk Telu Belas
  • tradisi
  • Lysander Lowell De Villiers
  • ELION
  • Ritual Rasa

Bagi orang lain, perempatan lampu merah adalah tempat persinggahan sementara. Namun bagi Nara, bocah 16 tahun dengan pipi bulat dan celotehan tanpa henti, jalanan keras dan cambukan takdir adalah satu-satunya rumah yang ia kenal. Di balik senyum bahagianya yang mampu meluluhkan siapa saja dan ocehan ajaibnya yang tak pernah habis, Nara menyembunyikan memar di tubuh serta ketakutan akan malam yang selalu membawa siksaan. Satu-satunya hal yang membuat bocah mungil ini tetap bertahan adalah impian kecilnya, mempunyai keluarga yang hangat dan mau memeluknya. Hingga suatu hari, sebuah takdir mempertemukannya dengan Dhiar-putra tunggal keluarga Adhyastha yang dingin, kaku, dan membenci kebisingan.

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman