Petir menyembar diiringi angin ribut, berulang kali Chimon membenarkan payungnya dan tote bag ke bahunya, tote bag itu berisi makanan instan untuk sarapan selama seminggu. Chimon menghabiskan lebih banyak waktu di luar ketimbang rumah nya. Setiap hari Chimon bekerja dari satu tempat ke tempat lain, kurang lebih ada 4 sampai 5 tempat setiap harinya. Hal itu ia lakukan untuk melunasi hutang akibat pacar ...? Lebih tepatnya Mantan sialan yang menipunya dan membawa semua uang miliknya dan menyisakan hutang puluhan juta. Langkah kaki Chimon terhenti saat di sebuah tempat sampah terdengar suara tangisan seorang anak kecil. Bulu kuduk nya berdiri, berulang kali Chimon mengusap belakang lehernya dan kedua tangannya secara bergantian. "Papa..." tapi saat Chimon ingin berlari suara itu membuatnya sangat penasaran-- seketika rasa takutnya hilang. Perlahan tapi pasti kaki Chimon melangkah mendekati sumber suara. Dari balik kardus betapa terkejutnya Chimon melihat anak kecil meringkuk kedinginan dengan mata tertutup. "Papa..." isak tangis terdengar begitu lirih. Wajah Chimon panas, airmata menggenang ia seperti mengingat masa kecilnya dulu. Chimon menghapus airmatanya, tangannya terulur menyentuh lembut kaki anak kecil itu. "Dik.." Anak kecil itu terperanjat dan beringsut mundur dengan tubuh gemetar. "Ja-jangan.. jangan pukul aku. Aku tidak nakal." Tangan kanan Chimon menggantung di udara. Apa yang terjadi dengan anak kecil ini? Apa dia baru saja kabur dari rumah karena dipukuli? "Tidak.. Kakak tidak akan memukul mu, Kakak hanya ingin mengajak kamu pulang ke rumah Kakak. Setidaknya disana kamu tidak akan kedinginan." Wajah anak kecil itu terangkat, untuk beberapa detik terdiam menatap wajah Chimon yang tersenyum. "Papa?" "...!" Kali ini Chimon yang dibuat terkejut. "Papa?" Anak laki-laki berusia 5 tahun itu memeluk Chimon erat. Bagaimana cerita selanjutnya? Ikuti ceritanya
More details