Tya selalu percaya bahwa cinta bukan sesuatu yang perlu dicari.
Sebagai seorang gadis Muslim yang terbiasa menjaga batas, ia merasa cukup dengan hidupnya yang sederhana-hingga Alek datang. Seorang pria Inggris yang perlahan menjadi sahabat terdekatnya. Hubungan mereka begitu nyaman: tanpa tuntutan, tanpa posesif, tanpa harus selalu bersama. Alek mengajarkan Tya bahwa kedekatan tak selalu membutuhkan kepemilikan.
Lalu Robin datang.
Pria India itu berbeda.
Robin tidak mengenal kata secukupnya ketika menyangkut Tya. Ia ingin berada di sisinya, mendengar ceritanya, mengetahui hal-hal kecil tentang harinya. Bersama Robin, Tya merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya-perasaan yang membuatnya bahagia sekaligus takut.
Karena untuk pertama kalinya, Tya jatuh cinta.
Bukan sekadar kepada seorang pria, tetapi kepada seseorang yang membuat keyakinan, batasan, masa depan, dan seluruh prinsip yang selama ini ia pegang terasa seperti sedang diuji.
Di satu sisi ada Alek-persahabatan yang tenang, dewasa, dan memberi ruang.
Di sisi lain ada Robin-cinta yang begitu dalam hingga terasa seperti tak memberi ruang untuk apa pun selain mereka berdua.
Dan Tya terjebak di antara keduanya.
Haruskah ia memilih cinta yang membuat jantungnya berdebar, atau hubungan yang membuatnya merasa aman?
Bagaimana jika ternyata orang yang paling ia cintai justru orang yang paling sulit untuk ia miliki?
Dan bagaimana jika Alek, sahabat yang selama ini selalu memberinya ruang, ternyata menyimpan perasaan yang tak pernah ia ungkapkan?
Karena terkadang, cinta pertama bukan tentang siapa yang datang lebih dulu-melainkan tentang siapa yang membuat kita berani mempertanyakan seluruh hidup yang sudah kita rencanakan.
All Rights Reserved