Coffee, Rain and The Name I Call Slowly

Coffee, Rain and The Name I Call Slowly

  • WpView
    LECTURAS 719
  • WpVote
    Votos 33
  • WpPart
    Partes 13
WpMetadataReadContenido adultoContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, sep 10, 2026
WpInfo
Ficción
Romance
Slow Burn
Temas Sociales
Fantasía
Atom Pariya kenalan sama Faye Malisorn di coffeeshop milik Faye-tempat tiga temannya (Luxsulax, Engfa, Charlote) bekerja dan bikin suasana selalu rame. Awalnya cuma obrolan kecil soal kopi dan tempat duduk favorit, tapi makin lama, Atom jadi "alasan" Faye betah nunggu jam tutup. Masalahnya, Faye punya tanggung jawab besar sebagai pemilik, sementara Atom punya luka lama soal hubungan yang bikin dia susah percaya. Di antara hujan sore, playlist akustik, dan komentar-komentar jahil dari para barista, mereka pelan-pelan jatuh... tanpa sadar.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Nala dan Mas Juragan
  • Círculo del Destino
  • GARWO KINASIH SANG DALANG (DELETE SEBAGIAN)
  • EINSTEIN [END]
  • Sweetly Tied
  • The Last Yes!
  • The Mafia's Sinful Obsession
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Mulih (END)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido