Aku mati sebagai Sera.
Bukan mati yang indah. Tidak ada pelukan terakhir, tidak ada kata perpisahan. Hanya hujan deras, suara rem truk, dan satu kotak ayam geprek seharga 10 ribu yang tidak pernah sampai ke Ibu.
Sera hidup 24 tahun sebagai gadis yang selalu berlari - berlari mengantar paket, berlari mengejar sewa kos, berlari agar ibunya bisa makan enak sekali saja. Sera tidak pernah punya waktu untuk bermimpi.
Lalu aku terbangun sebagai Elina.
Elina Wijaya. 22 tahun. Pemilik cafe cantik bernama Elin's di Manado, dengan jendela besar, aroma kopi setiap pagi, dan foto keluarga lengkap di dinding. Semua yang tidak pernah Sera punya.
Semua orang bilang Elina beruntung. Cantik, mapan, dicintai.
Tapi tidak ada yang tahu, Elina juga kesepian. Ditinggal kedua orang tuanya dalam kecelakaan yang sama, Elina hidup dalam cafe yang atapnya bocor dan kenangan yang tidak bisa ia perbaiki sendiri.
Dua gadis yang mati di hari yang sama, karena hujan yang sama.
Satu kehilangan masa depan, satu kehilangan masa lalu.
Ketika Sera hidup di dalam tubuh Elina, ia harus belajar menjadi Elina - belajar tersenyum, belajar membuat klepon pandan yang bulat sempurna, belajar menerima bahwa ia kini punya rumah yang hangat.
Ini bukan kisah tentang melupakan dan menggantikan.
Ini kisah tentang Sera yang belajar hidup sebagai Elina, dan Elina yang belajar tetap hidup melalui Sera.
Tentang bagaimana kehilangan tidak pernah benar-benar pergi, ia hanya berubah bentuk - dari sesak menjadi hangat, dari tangis menjadi klepon yang dibulatkan dengan doa.
Jika kamu diberi kesempatan hidup kedua, bukan sebagai orang baru, tapi sebagai dirimu yang lain... maukah kamu tetap menjadi dirimu sendiri?
All Rights Reserved