Gavin Pranaja adalah pemuda sederhana yang tumbuh dengan kecintaan besar terhadap alam. Kini, ia menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Geologi di Universitas Cendekia Nusantara dengan beasiswa yang diraihnya berkat kecerdasannya. Di balik keseriusannya, Gavin juga memiliki bakat bermain piano dan mengikuti berbagai perlombaan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Hidupnya terasa biasa saja, sampai seorang perempuan perlahan mengubahnya.
Saat masih duduk di kelas 12 SMA, Gavin pertama kali bertemu dengan seorang perempuan dalam sebuah perlombaan di Universitas Cendekia Nusantara. Saat itu, Gavin hanya melihatnya sebagai peserta yang memainkan biola dengan indah. Tidak ada rasa suka ataupun debaran. Ia bahkan tidak pernah menyangka pertemuan singkat itu akan menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar.
Namun, setelah hari itu, takdir seolah terus mempertemukan mereka. Dari pertemuan yang awalnya hanya kebetulan, mereka mulai saling mengenal dan berinteraksi. Perlahan, sosok perempuan itu mulai menarik perhatian Gavin. Senyumnya mulai ia tunggu, suaranya mulai ia kenali, dan tanpa sadar, pandangannya sering mencari sosok itu di tengah keramaian.
Gavin tentu saja menyangkal semuanya. Menurutnya, itu hanya kebetulan karena mereka terlalu sering bertemu. Namun, semakin ia mencoba mengabaikan perasaan itu, semakin sering pula takdir membawa mereka kembali bertemu.
Dari dua orang yang awalnya hanya bertemu dalam sebuah perlombaan, perlahan tumbuh kedekatan yang membuat Gavin mulai mempertanyakan hatinya sendiri.
Mungkin, cinta memang tidak selalu datang pada pandangan pertama. Kadang, cinta tumbuh dari sebuah pertemuan yang awalnya terasa biasa saja, lalu perlahan menjadi sesuatu yang sulit dilupakan.
Hingga akhirnya Gavin menyadari satu hal: perempuan itu bukan lagi sekadar seseorang yang sering ia temui. Ia adalah seseorang yang mulai ia tunggu.
Все права сохранены