Clara Putri Mahesa (23) adalah mahasiswi manajemen tingkat akhir yang sedang di ambang kehancuran mental akibat skripsi. Hidupnya sederhana: tidak bisa hidup tanpa mi instan dan kopi, sangat cerewet, banyak tingkah, dan punya satu fobia rumah sakit dan segala bau obatnya**. Ia paling anti mengantar Arka (5), keponakan kesayangannya yang merupakan nomor satu di hatinya, kontrol ke rumah sakit. Bagi Clara, dunia luar sudah cukup kejam tanpa harus ditambah penderitaan bau disinfektan.
Namun, takdir punya rencana lain saat Arka harus dirawat karena kecelakaan kecil. Di situlah Clara harus berurusan dengan dokter penanggung jawab Arka: Dr. Jeremy Bintang Ardinata, Sp.A(28).
Jeremy adalah definisi kesempurnaan berjalan. Pria berwajah teduh ini punya sifat soft spoken, kesabaran seluas samudra, gentleman sejati, dan tidak pernah meninggikan suara. Ia sangat religius, suka anak kecil, dan selalu tersenyum ramah kepada siapa saja. Uniknya, di balik citranya yang suci dan hobi menceramahi orang lain agar berhenti minum kopi, Jeremy sendiri adalah seorang coffee addict sejati yang *always* minum kopi setiap hari.
Yang membuat Clara kebingungan, sifat sabar dan tenang Jeremy mendadak berubah menjadi iseng dan suka menggoda **hanya di depan Clara**. Dari insiden cangkir kopi *tumbler* rahasia, ceramah kesehatan soal lambung, hingga debat-debat kecil yang menguji iman dan kewarasan Clara di lorong rumah sakit.
Di tengah stres skripsi yang makin menumpuk dan ketidaksukaannya pada rumah sakit, Clara justru mendapati dirinya terjebak dalam hari-hari penuh tawa, omelan, dan debar jantung yang tidak biasa bersama sang dokter. Padahal, Clara merasa dirinya tidak peduli soal jodoh dan cuma ingin hidup damai.
Lantas, bagaimana bisa hidup seorang mahasiswi pemalas mi instan dan anti rumah sakit ini mendadak berubah menjadi *My Life to Dokter*? Apakah pesona Dr. Jeremy sang bintang ardinata berhasil meruntuhkan pertahanan hati Clara, atau justru sebaliknya
All Rights Reserved